5 Upacara Adat Keraton Yogyakarta yang Wajib Kalian Tau dan Masih Lestari Hingga Sekarang

Upacara Adat Keraton Yogyakarta yang Wajib Kalian Tau

Ini Dia 5 Upacara Adat Keraton Yogyakarta yang Wajib Kalian Tau !

Adat Istiadat Yogyakarta yang Biasa dilakukan – Salah satu provinsi di Indonesia yang mendapat gelar istimewa adalah Provinsi Yogyakarta, atau biasa kita sebut “Kota Jogja”. Pemberian status istimewa ini merupakan sebuah warisan dari zaman sebelum kemerdekaan. Kesultanan Yogyakarta dan juga Kadipaten Paku Alam, sebagai cikal bakal terbentuknya nama Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), yang memiliki status Kerajaan vasal/Negara bagian dalam pemerintahan penjajahan Belanda.

Status ini kemudian memberikan konsekuensi hukum dan politik berupa kewenangan untuk mengatur serta mengurus wilayah teritorinya sendiri dibawah pengawasan pemerintah kolonial. Status tersebut juga mendapat legitimasi dari Bapak Pendiri Bangsa Indonesia Ir. Soekarno yang duduk dalam BPUPKI dan PPKI menyatakan bahwa Yogyakarta sebagai sebuah daerah bukan lagi sebagai sebuah negara.

Selain itu Kota Jogja juga menyimpan sejuta kenangan, sebagai kota pelajar dan kota kebudayaan membuatnya seakan tidak pernah sepi dari pelancong. Baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Daya tarik Kota Jogja salah satunya adalah Keraton Yogyakarta yang masih eksis sampai saat ini. Maka dari itu tidak sedikit orang menjadikan Jogja sebagai salah satu alternatif destinasi liburan.

Kota Jogja bisa dibilang berhasil dalam menjaga warisan sejarah dan juga kebudayaan dari Keraton Kasultanan Yogyakarta ditengah-tengah arus globalisasi dan modernisasi. Terlihat saat kita berkunjung ke kota ini masih bisa menjumpai bangunan-bangunan bersejarah seperti Keraton yang lengkap dengan berbagai ornamen kerajaan. Namun, selain bangunan bersejarah ternyata Jogja masih melestarikan beberapa tradisi Keraton yang mungkin bagi sebagian orang sudah kuno.

Tradisi kebudayaan Keraton yang masih dilestaikan sampai saat ini selain menjadi rutinitas abdidalem keraton juga bertujuan untuk mengenalkan kepada generasi bangsa bahwa ada sebuah tradisi kebudayaan dari nenek moyang kita yang harus dilestarikan ditengah-tengah kemajuan zaman. Tradisi tersebut ialah Upacara Adat Keraton. Upacara adat Keraton Jogja sendiri memiliki beberapa jenis dan waktu pelaksanaan yang berbeda, serta juga berbeda tujuan secara filosofisnya.

Nah ini dia beberapa nama upacara adat Keraton Yogyakarta yang masih diselenggarakan hingga saat ini sebagai wujud rasa syukur terhadap nikmat juga sebagai daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke Kota Yogyakarta.

Berikut 5 Upacara Adat Keraton Yogyakarta yang Wajib Kalian Tau !

1. Upacara Siraman Pusaka

Upacara Adat Keraton Yogyakarta yang Wajib Kalian Tau
Upacara Adat Siram Pusaka

Hampir semua kerajaan pasti memiliki berbagai jenis benda pusaka, baik sebagai koleksi raja, maupun sebagai senjata keamanan kerajaan pada masa lampau. Salah satunya Keraton Yogyakarta juga memiliki beberapa jenis dan model benda-benda pusaka peninggalan raja-raja dahulu. Untuk merawat peninggalan benda pusaka tersebut Keraton Yogyakarta memiliki tradisi khusus yang diberi nama Upacara Siraman Pusaka.

Seperti namanya yaitu Siraman yang dalam bahasa Jawa artinya Menyirami atau memandikan, arinya ritual ini memiliki tujuan untuk memandikan pusaka miliki Ngarsa Dalem atau milik Keraton. Upacara ini dilaksanakan setahun sekali tepatnya pada Bulan Sura pada hari Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon dari pagi hingga siang hari selama 2 hari dan bersifat tertutup, sehingga masyarakat umum tidak bisa menyaksikan prosesi penyiraman pusaka.

Ada kurang lebih 200 pusaka Ngarsa Dalem Keraton Yogyakarta yang dibersihkan dan juga dimandikan setiap Bulan Sura, antara lain senjata berupa tombak, keris, ampilan, regalia, panji-panji, kereta dan gamelan. Yang menarik dari pusaka-pusaka milik keraton ini ternyata diberi gelar atau nama pada setiap pusakanya, seperti Kanjeng Kyai atau Kanjeng Nyai, bahkan untuk beberapa pusaka yang memiliki daya magis besar diberi gelar Kanjeng Kyai Ageng.

Pusaka yang dianggap penting oleh Keraton Yogyakarta antara lain seperti Keris K.K Ageng Sengkelat, Tombak K.K Ageng Plered, Kereta Kuda Nyai Jimat, sedangkan pusaka yang khusus dibersihkan oleh Sri Sultan yaitu K.K Ageng Plered dan Kyai Ageng Sengkelat. Kemudian pusaka lainnya dibersihkan oleh pangeran, wayah dalem dan Bupati.

Pusaka keraton dipercaya bersifat sakral serta memiliki kekuatan supranatural, sehinga perawatannya juga tidak boleh sembarangan, baik letak penyimpanan, sampai pemakaiannya. Selain untuk menghormati leluhur juga menjaga kelestarian dari tangan-tangan jahil.

2. Upacara Nguras Enceh

Upacara Adat Keraton Yogyakarta yang Wajib Kalian Tau
Upacara Adat Nguras Enceh

Upacara adat satu ini dilakukan di Imogiri, tepatnya di kompleks Makam Raja-Raja Mataram. Ritual upacara adat Nguras Enceh atau mengganti air gentong adalah sebuah tradisi yang dilakukan pada setiap bulan Sura tepatnya pada hari Jumat Kliwon. Enceh atau gentong yang berada di Kompleks Makam Raja-Raja Mataram di Imogiri ini berjumlah empat.

Keempat gentong ini pun memiliki nama berbeda, antara lain Gentong Kyai Danumaya, Kyai Danumurti, Kyai Mendung dan Nyai Siyem. Ternyata keempat gentong tersebut selain memiliki nama berbeda juga berbeda pula asal usulnya, seperti gentong bernama Kyai Danumaya berasal dari Kerajaan Palembang, kalau yang bernama Kyai Danumurti berasal dari Kerajaan Aceh, untuk gentong bernama Kyai Mendung berasal dari Kerajaan Ngerum di Turki sedangkan gentong bernama Nyai Siyem berasal dari Kerajaan Siam (Thailand).

Layaknya sebuah ritual adat orang Jawa, sebelum prosesi pembersihan dan penggantian air dalam gentong dilakukan terlebih dahulu pemanjatan doa supaya selama penyelenggaraan diberi kelancaran sekaligus menyampaikan harapan dikemudian hari kepada sang pencipta. Upacara ritual ini dipimpin oleh seorang kasepuhan abdi dalem Keraton Yogyakarta.

Pengambilan air dilakukan oleh abdi dalem berpangkat Tumenggung atau Ngabehi. Kemudian para abdi dalem dibantu warga mengambil air untuk mengisi gentong hingga penuh. Setelah penuh masyarakat diperbolehkan untuk meminta air yang dianggap bertuah secukupnya. Lokasi upacara adat Nguras Enceh ini dilakukan di kompleks pemakaman Raja-Raja Mataram di Imogiri, Dusun Pajimatan, Desa Girirejo, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul.

3. Upacara Labuhan

Upacara Adat Keraton Yogyakarta yang Wajib Kalian Tau
Upacara Adat Labuhan

Keraton Yogyakarta satu dari sekian banyak kerajaan di Indonesia yang masih eksis sampai sekarang, layaknya sebuah kerajaan pasti memiliki berbagai macam prosesi ritual. Salah satu ritual adat yang sering dilakukan ngarsa dalem Keraton yaitu Upacara Labuhan, ritual adat ini adalah bagian akhir dari serangkaian even Keraton yang bernama Hajad Dalem Tingalan Jumenengan yaitu serangkaian upacara adat penobatan atau kenaikan tahta Sultan Jogja.

Puncak acara penobatan Kesultanan itu diakhiri dengan ritual adat Upacara Labuhan, yang bertujuan untuk meminta kesejahteraan sekaligus keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Prosesi Upacara Labuhan ini sendiri dilaksanakan diempat lokasi yang berbeda dan setiap lokasinya memiliki alasan filosofis serta historiografis sendiri-sendiri.

Seperti lokasi pertama yaitu Pantai Parangkusomo, namanya upacara labuhan berarti labuh atau melarungkan sesaji dan segala jenis uborampe ke laut menjadi ciri utama ritual ini. Kemudian dipilihnya tempat ritual upacara labuhan di Pantai Parangkusomo dengan alasan konon di lokasi tersebut pernah menjadi tempat pertapaan Panembahan Senopati dan bertemu dengan Kanjeng Nyai Roro Kidol, kemudian sang Ratu berjanji akan membantu untuk mendirikan sebuah entitas berupa kerajaan besar kemudian jadilah Kerajaan Mataram yang sekarang kita kenal dengan nama Keraton Yogyakarta.

Untuk lokasi kedua yaitu, di Gunung Merapi, dipilihnya Gunung Merapi sebagai tempat upacara adat labuhan dikarenakan Gunung Merapi disinyalir telah berperan besar atas berdirinya Kerajaan Mataram. Pada tahun 1586 kondisi perpolitikan antara Kerajaan Pajang dan Mataram memanas, kemudian dalam waktu bersamaan terjadi letusan Gunung Merapi yang mampu memporak porandakan basecamp pasukan Kerajaan Pajang sekaligus memukul mundur semua pasukan Pajang dari wilayah Kerajaan Mataram. Sehingga sampai hari ini dilakukan ritual labuhan sebagai bentuk rasa syukur atas momentum saat itu.

Lokasi ketiga untuk menyelenggarakan upacara labuhan yaitu di puncak Gunung Lawu, mungkin terkesan aneh ya, mengingat lokasi yang jauh dari teritori Provinsi Jogjakarta, karena Gunung Lawu masuk wilayah administratif Kabupaten Magetan Jawa Timur. Namun, ketika kita melihat kebelakang ada jejak sejah yang melekat di gunung tersebut, ya betul, diatas Puncak Gunung Lawu ada petilasan Raja kelima Kerajaan Majapahit. Upcara labuhan ini adalah bentuk penghormatan kepada Raja Brawijaya V atas kontribusi dalam merintis Kerajaan Mataram.

Dlipah Kayangan Wonogiri menjadi lokasi terakhir prosesi upacara adat labuhan yang diselenggarakan Ngarsa Dalem Keraton Jogjakarta ini. Menurut berbagai sumber sejarah konon lokasi ini menjadi tempat favorit Para Raja Mataram untuk melakukan pertapaan dan juga bersemedi dalam rangka memanjatkan doa kepada Tuhan yang Agung. Sehingga lokasi ini menjadi sakral sekaligus tempat terakhir untuk upacara labuhan Keraton.

4. Upacara Sekaten

Upacara Adat Keraton Yogyakarta yang Wajib Kalian Tau
Upacara Adat Sekaten

Ritual satu ini mungkin sangat familiar ditelinga masyarakat dan sering ditunggu-tunggu. Ritual sekaten sendiri adalah sebuah upacara adat Keraton Jogja yang berbeda dengan ritual lain, nuansa keIslamannya sangat kental, karena cikal bakal upacara sekaten ini adalah sebagai bentuk seremoni penghormatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW sekaligus seruan raja kepada masyarakat untuk memeluk Agama Islam.

Ritual diadakan setiap tanggal 5 pada penanggalan Jawa yaitu pada bulan Mulud (Rabiul Awal) di alun-alun Jogjakarta dan Surakarta (Solo) dengan mengarak tumpeng dan satu set Gamelan sakral Keraton bernama Kyai Nogowilongo dan Kyai Gunturmadu dengan diikuti barisan abdi dalem keraton berpakaian prajurit lengkap.

Rangkaian upacara Sekaten ini sendiri sangat panjang antara lain ada ritual pengiring lainnya, seperti ritual Gerebek Mulud yang menjadi puncak acara Upacara Sekaten. Grebuk Mulud biasanya dilakukan pada tanggal 12 Rabiul Awal persis tanggal kelahiran Kanjeng Nabi Muhammad SAW, dengan melakukan kirap gunungan berupa beras ketan, makanan, sayuran, lauk dan buah-buahan dari Istana Kemandungan melewati Sitihinggil dan Pagelaran menuju Masjid Agung.

Kirap gunungan ini dikawal oleh 10 kompi prajurit keraton, wirabaja, Dhaheng, Patangpuluh, Jagakarya, Prawiratama, Nyutra, Ketanggung, Mantrijero, Surakarsa dan Bugis. Setelah semua uborampe itu didoakan oleh panembahan keraton kemudian gunungan tadi dibagikan kepada masyarakat, dan banyak masyarakat yang mengganggap mendapat bagian dari gunungan ini adalah sebuah berkah.

Baca Juga :

5. Upacara Adat Pembukaan Cupu Panjolo

Upacara Adat Keraton Yogyakarta yang Wajib Kalian Tau
Upacara Adat Pembukaan Cupu Panjolo

Ritual adat Keraton Jogja ini diselenggarakan setiap Pasaran Kliwon dipenghujung musim kemarau tepatnya pada Bulan Ruwah (kalender Jawa), lokasi yang dijadikan ritual berada di Desa Mendak Girisekar, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunungkidul.

Dalam pelaksanaan upacara adat pembukaan cupu panjolo ini semua abdi dalem Keraton wajib memakai pakaian adat Jawa lengkap dengan melakukan ritual puasa terlebih dahulu. Cupu Panjolo sendiri yaitu tiga buah cupu keramat yang disimpan dalam kotak kayu berukuran kurang lebih 20x10x8 cm dan dibungkus dengan ratusan lembar kain putih (mori).

Ritual ini dilakukan untuk prosesi penggantian kain penutup kotak penyimpan cupu setiap satu tahun sekali. Nah, kemudian yang menjadi daya tarik dari upacara adat ini adalah setiap prosesi penggantian kain tersebut sering ditemukan benda-benda yang unik, terkesan tidak lazim hingga bisa berada di dalam lembaran kain mori tersebut.

Benda-benda yang sering muncul di setiap lembar kain seperti jarum, kulit kacang, butiran padi, bahkan muncul beberapa motif gambar wayang dalam kain tersebut. Padahal selama satu tahun cupu tersebut disimpan dilemari yang rapat dan tidak boleh dibuka sama sekali. Sehingga banyak yang percaya bahwa upacara adat pembukaan Cupu Panjolo ini adalah sebuah ramalan peristiwa di kemudian hari.

Masih banyak lagi upacara adat Keraton Jogjakarta yang menarik untuk dipaparkan, selain melestarikan kebudayaan, pelaksanaan rangkaian ritual Keraton ini juga menjadi daya tarik wisatawan untuk selalu ingin berkunjung ke kota yang mendapat lebel kota pelajar dan kota budaya, Kota Yogyakarta.

Itu tadi uraian singkat mengenai Adat Istiadat Yogyakarta yang Biasa dilakukan, terimakasih support dan dukungannya semoga urain diatas bermanfaat dan menambah kasanah wawasan kalian semua sobat melek yang budiman.