Tuhan pada Zaman Batu (Paleolithikum)

Sejarah Peradaban Dunia dalam Mengenal Nama Tuhan
Sejarah Peradaban Dunia dalam Mengenal Nama Tuhan

Mengenali Tuhan masyarakat purba

Sejarah Peradaban Dunia – Zaman pra agraris atau zaman batu (paleolithikum) adalah sebuah era dimana manusia yang sudah mendiami Bumi ribuan tahun lalu tidak terlalu pusing dengan ketersediaan pangannya. Bumi memiliki hutan dengan buah-buahan dan makanan yang melimpah. Demikian laut dengan ikan dan binatang lainnya.

Termasuk langit dengan berbagai jenis burung yang bisa ditangkap kapan saja. Dengan jumlah manusia yang terbilang masih sedikit, perbandingan ketersediaan dan kebutuhan pangan sangat jauh dan terkesan melimpah ruah.

Seperti firman Tuhan dalam beberapa ayat suci Agama misalnya, penyediaan makanan untuk kehidupan di Bumi sudah dijamin olehNya. Bahwa, bumi yang dulunya masih panas karena merupakan pecahan dari matahari lantas mendingin, memadat sehingga memiliki daratan.

Kemudian dikirimi air dari luar angkasa, sehingga terbentuklah lautan, danau dan sungai-sungai. Maka pada sekitar 3,5 miliyar tahun lalu Tuhan mulai menciptakan makhluk satu sel yang kemudian berkembang menjadi tanaman dan hewan-hewan.

Metode yang paling mudah untuk menelisik bagaimana manusia zaman paleolithikum mengenal sosok tuhannya dan bagaimana mereka melakukan spiritualitas yaitu dengan melihat beberapa penemuan fosil dan juga beberapa instrumen pendukung mereka yang sekiranya bisa dijadikan referensi sebagai analisa kebudayaan beragama.

Salah satu temuan yang mendekati dengan kebiasaan manusia purba dalam melakukan kegiatan spiritual yakni dari proses pemakaman mereka. Ritual pemakaman menunjukkan adanya suatu kepercayaan transenden pada kehidupan setelah kematian. Seperti beberapa temuan para arkeolog dunia berikut ini.

Dispanyol ditemukan 32 buah tulang belulang yang dikuburkan dalam satu lubang. Lubang pemakanan itu sendiri ditemukan di dalam gua Atapuera, dan diperkirakan usia fosilnya sekitar 300.000 tahun. Tidak diragukan lagi dengan ditemukan tempat pemakaman manusia di Neanderthal di Kroasia, disebuah kawasan yang disebut Kaprina dengan perkiraan usia fosilnya 130.000 tahun.

Sedangkan dikawasan Qafzeh, Israel juga sempat ditemukan kuburan tertua dari manusia setengah modern, berusia 100.000 tahun. Diantaranya terdapat tulang belulang ibu dan anak.

Baca Juga : 

Dan yang menarik, tulangnya diberi tanda pewarna alam ‘ochre’ merah. Yang tandanya sudah melalui ritual pemakaman. Pemakaian zat perwana red ochre juga menjadi sangat populer di kala itu, dimana zat pewarna tersebut banyak dipakai dalam acara ritual keagamaan.

Mulai dari untuk melumuri bagian tubuh dan wajah dengan warna merah, ungu, kuning, dan coklat, juga untuk mewarnai tulang jenazah, serta adanya lukisan-lukisan di situs pemakaman, dan lain sebagainya.

Di Australia pernah ditemukan fosil laki-laki yang diperkirakan dari zaman 42.000 tahun lalu, dengan badan yang disembur zat pewarna red ochre. Situs tersebut berada di Danau Mungo. Dibeberapa negara di Eropa juga ditemukan sejumlah fosil dan artefak yang memiliki kaitan dengan ritual keagamaan kuno.

Selain ditemukan beberapa lukisan atau gambar mengenai ritual pemakaman, juga ditemukan beberapa jenis patung dewi kesuburan (Venus) dengan berbagai bentuknya yang berbeda-beda.

Dari beberapa penemuan fosil diatas, mungkin penemuan di Israel yang ini lebih mendekati, yaitu ditemukan sebuah kuburan seorang shaman atau dukun, bersama dengan jenazah seorang perempuan yang tinggal tulang belulang itu dijumpai benda-benda klenik yang unik. Diantaranya, ada 50 ekor kulit penyu, beberapa potongan tubuh babi liar, burung raja wali, sapi, macan tutul, kaki manusia, dan beberapa artefak lain.

Dari beberapa data sejarah penemuan fosil itu, kita bisa memperoleh gambaran tentang kondisi keagaman ataupun spiritualitas masyarakat di zaman pra agraris. Meskipun sangat sederhana mengenai kebudayaan spiritualitas mereka, itu sudah menandakan bahwa manusia pada waktu itu pun sudah memiliki pemahaman terkait keabadian yang sesungguhnya.

Dalam seiring berkembangnya waktu kebudayaan kepercayaan mereka itu sering disebut dengan istilah animisme. Animisme sendiri memiliki arti sesuatu faham tentang adanya roh halus dalam kehidupan, dan lebih jauh roh halus itu lantas dipuja dan dimintai pertolongan.

Kepercayaan manusia pada waktu itu lebih memakai insting mereka yang menganggap bahwa di balik segala yang kelihatan ini sebenarnya ada kekuatan besar yang tak kasat mata, yang sering mereka sebut dengan roh halus. Mungkin mereka kesulitan ketika ditanyai mengenai karakteristik, sepert wujud, zat, atau bahkan nama, namun mereka sangat yakin akan eksistensi kekuatan sang ilahi itu.

Kemudian keyakinan animisme itu mengalami perkembangan menjadi keyakinan yang biasa kita kenal dengan istilah dinamisme. Yaitu mereka menganggap bahwa roh-roh halus itu bertempat dibeberapa benda. Bisa dipohon, hewan, bebatuan, gunung, lembah, dan sebagainya termasuk juga disenjata yang mereka pakai dalam peperangan misalnya.

Intinya manusia purba yang primitif pada waktu itu sudah mengenal eksistensi Tuhan, meskipun dengan pemahaman yang sangat sederhana. Mereka mengakui akan kelemahan dan keterbatasan, dan banyak sekali kekuatan-kekuatan yang jauh lebih dahsyat diluar sana.

Lebih jauh lagi, kepercayaan animisme dan dinamisme itu berkembang menjadi shamanisme. Yaitu, dengan terpilihnya seorang pemimpin spiritual, atau imam yang menjembatani ritual mereka dengan para roh leluhur yang mereka sembah.

Shamanisme yang hidup di masyarakat sampai sekarang ini ternyata sudah ada dari zaman prasejarah. Tugas mereka selain menjadi imam atau pendeta dalam peribadatan juga menjadi penyembuh dari berbagai macam penyakit yang seringkali dianggap sebagai gangguan dari makhluk halus. Seperti di Indonesia, shamanisme setara dengan praktek perdukunan.

nah, udah taukan nama atau istilah Tuhan pada masa purba atau zaman batu, jadi kegilisahan kita mengenai sejak kapan sih nama Tuhan itu ada. Nantikan tautan-tautan yang lain dan pastinya terimakasih sudah mampir dalam artikel ayomelek sobat.