Transformasi Mode Berbusana Ala Barat

Transformasi Mode Busana

Transformasi Mode Berbusana Ala Barat yang Mempengaruhi Gaya Busana Kita Saat Ini

Perkembangan Pakaian dari Dulu Hingga Sekarang – Kita sebagai orang jawa mungkin pernah mendengar peribahasa seperti ini, ‘Ajineng Diri soko Lathi, Ajining Rogo soko Busono’, peribahasa yang sangat familiar bagi telinga orang Jawa. Sebenarnya apasih makna dari peribahasa tersebut, secara harfiah peribahasa tersebut mengingatkan kita bahwa harga diri seseorang itu bisa terintepretasi dari ucapannya, sedangkan penampilan atau karakter kita dapat tercerminkan dari gaya berbusana kita. Nah, di nusantara, sejarah berpakaian atau berbusana memiliki pengaruh kebudayaan dari bangsa Eropa yang sangat kuat loh.

Hal tersebut diawali dari mulainya bangsa Eropa yang berekspansi ke Nusantara dengan melalui perserikatan dagang bangsa Eropa atau akrab kita kenal dengan sebutan VOC. Pertama, terlihat dari diterimanya model atau gaya berpakaian ala Barat oleh kaum laki-laki di Nusantara, baik yang tinggal diperkotaan maupun sampai pelosok desa. Misalnya, dalam kehidupan sehari-hari pakaian model celana panjang dan kemeja rapi, dan juga dalam kegiatan upacara menggunakan pakaian lengkap, dengan jas dan dasi.

Pengaruh itu juga terdapat di kota-kota besar lain di Asia Tenggara, namun tidak di semua tempat seperti di Birma, lelaki tetap setia berpakaian tradisional. Secara linguistik sendiri yang perlu kita ketahui bersama beberapa komponen pakaian tersebut memiliki historis tersendiri, seperti istilah kemeja dari bahasa Portugis camisa, dan dasi dari Bahasa Belanda dasje, asal kata celana dari bahasa Hindia dan baju berasal dari Bahasa Parsi. Hal tersebut menunjukkan bahwa orang Eropa hanya mempertegas suatu penamaan yang telah ada dengan istilah lain.

Overbeck telah mengatakan dengan jelas bahwa tokoh pria dalam wayang telah mengenakan pantalon (celana panjang sampai mata kaki) yang terbuat dari kain cindai, kecuali Birma, yang pada umumnya ditampilkan hanya mengenakan cawet atau lancingan (bahasa Jawa), semacam pakaian sangat kuno yang dewasa ini masih terdapat di kalangan penduduk pegunungan di Indocina, dan pada tahun 1939 dilihat oleh Overbeck dikenakan oleh beberapa petani Jawa di lembah Sungai Serayu (antara Gunung Slamet dan Cilacap).

Pemakaian celana panjang menjadi hal baru bagi masyarakat Nusantara yang mendapat pengaruh bangsa Eropa ini. Tercatat dalam sebuah Memoar Pangeran Djajadiningrat, yang ditulis pada tahun 1933-1934, kaya dengan catatan mengenai gejala yang justru sedang terjadi dan menjadi perhatian orang-orang sezamannya. Berikut salah satu kutipannya, “Dalam tahun 1902 masih belum galib (lazim) bagi orang Bumiputera memakai cara orang Eropa, baik seluruhnya, baikpun setengah-setengahnya. Sedangkan Regent-regent (bupati) masih memakai secara orang Bumiputera sejati, yaitu berkain, berjas gunting Jawa, dan berdaster. Maka tidaklah ia memakai sepatu, melainkan memakai selop.”

gaya busana orang indo abad 19

Selama proses mengenyam pendidikan formal atau sekolah yang didirikan orang Eropa juga di dunia pesantren pada tahun 1883, Pangeran menceritakan adanya transformasi kebudayaan berpakaian yang menurut beliau sayang untuk ditinggalkan. “sebelum berangkat ke pesantren, rambut saya dipotong sehabis-habisnya. Yang memotong rambut saya itu adalah ibu saya sendiri . . . . kemudian pakaian saya diganti dengan sehelai sarung yang sangat kasar, namun bajunya tidak berubah yaitu baju warna putih (baju sangsang), sampai dada saya terlihat, dan sehelai ikat kepala yang harganya murah. Namun ketika saya harus mengikuti pelajaran dari guru-guru Belanda, saya harus mengganti pakaian saya, yaitu pakaian ala-ala anak Eropa dengan kopiah beledu hitam

Lebih menarik lagi adalah cerita dari Haji Muhammad, seorang pengusaha di daerah Banten yang telah menerjunkan diri dalam usaha bisnis kopra (menjelang tahun 1910) dan mencoba mengelola perusahaannya “secara Eropa”: sebab banyak bergaul dengan orang-orang Eropa dan Tiongkok, tambahan pula karena mondar-mandir ke Betawi, sedangkan beliau juga pandai pula membaca surat-surat kabar dan surat-surat bulanan berbahasa asing, maka akhirnya Haji Muhammad berpendapat, bahwa kain sarung, terompah, dan serban adalah pakaian yang sangat mengganggu dalam aktivitas pekerjaan berat.

Ternyata beliau meyakini peribahasa orang Inggris yaitu “waktu adalah uang”, maka Haji Muhammad mengganti pakaiannya seperti pakaian orang Barat, yaitu berpantalon, bersepatu, berjas, dan berkopiah Turki. Selang beberapa waktu beliau juga berhasil membeli sebuah kereta angin (sepeda), sehingga aktifitas beliau lebih cepat dan efisien.

Meskipun demikian, perlu kita ketahui bahwa pada wktu itu masih banyak kaum lelaki yang masih memakai celana pendek dan juga sarung. Lelaki perkotaan pun cenderung mengenakan sarung begitu mereka berada di rumah, agar terkesan santai setelah mandi sore, tetapi ia segera melepaskanya dan mengenakan pantalon kembali bila ada tamu, karena jika memakai sarung dianggap kurang sopan.

Namun, sarung akan menjadi kebanggaan seorang laki-laki ketika hari jumat yaitu untuk ibadah sholat jumat, seperti halnya kimono di Jepang, yang pada dasarnya menjadi pakaian santai dirumah namun terlihat elegan berkat tokoh besar seperti Kawabata.

Salah satu bagian dari budaya pakaian yang tidak luput mendapat pengaruh akulturasi budaya secara signifikan yaitu bagian penutup kepala. Istilah topi Eropa sendiri berasal dari bahasa India topi dan tidak begitu menjadi perhatian bagi masyarakat Indonesia,seperti halnya model topi kolonial yang pernah menjadi tren di negara Vietnam.

Model penutup kepala ala masyarakat lokal seperti belangko, ikat kepala, dester, atau serban semakin hilang. Perlahan menjadi kerpus muslim ala muslim yaitu peci yang terbuat dari beledu hitam. Seperti yang diklaim oleh Soekarno dan PNI sebagai lambang nasionalisme.

Baca Juga :

Adat Eropa yang mewajibkan orang membuka tutup kepala sebagai tanda rasa hormat tidak pernah diterima di Jawa. Hal ini terlihat pada saat menyalami atasan, masuk kedalam tempat suci (ibadah), atau mendengarkan lagu kebangsaan, laki-laki Indonesia tidak pernah menaggalkan peci hitamnya yang boleh dikatakan menyatu dengan dirinya.

Peci sejak beberapa tahun yang lalu mengalami kemajuan, sebagian terlihat banyak dipakai di kalangan angkatan bersenjata, tetapi harus dicatat bahwa potret resmi Presiden Soeharto dan Sultan Hamengku Buwono IX menampilkan kedua tokoh dengan kopiah “nasional”.

Presiden Soeharto dan Wapres Hamengkubuwono IX

Namun akan kita temui faktai yang berbeda ketika kita mengamati mode atau akulturasi budaya pakaian wanita pada waktu itu. Meskipun, ada beberapa orang yang sudah mengikuti gaya berbusana orang Eropa namun jumlahnya sedikit. Ada beberapa jenis pakaian yang termasuk adobsi dari barat seperti rok (dari bahasa Belanda rok), gaun (dari bahasa Inggris  gown), dan blus (dari bahasa Belanda-Perancis Blouse).

Namun, sebagian besar wanita Sunda dan Jawa tetap menggunakan pakaian tradisional. Pakaian tersebut yang mengandung tiga jenis yaitu, kain, kebaya, dan selendang. Ternyata bagi wanita lokal atau pribumi, menggunakan pakaian tidak hanya sekedar menutupi bagian tubuhnya apalagi sekedar gaya-gayaan hehehe, namun juga memiliki beberapa kegunaan atau manfaat secara fungsional.

Misalnya, bisa digunankan sebagai pengikat keranjang atau menggendong anak, karena memang kebanyakan wanita zaman dulu memiliki kesibukan diladang, atau berdagang di pasar. Akan berbeda kegunaannya bagi wanita kelas tinggi, nilai kegunaan tersebut hanya sebatas hiasan atau pemanis dalam berbusana saja, begitupun dengan motif yang ada pada pakaiannya juga melambangkan dalam kehidupan berumah tangga mereka, atau memiliki nilai sugesti populisme didalamnya

Jadi, dalam hal berbusana, wanita pada umumnya menolak Barat, sedangkan laki-laki menerimanya. Tidak diketahui jelas apa alasan mendalam yang mendorong laki-laki Indonesia memilih pakaian Barat dalam waktu beberapa dasawarsa saja. Alasan praktis pun kurang kuat, karena jika dilihat dari faktor iklimnya, mengenakan sarung sebenarnya sama memadainya dengan mengenakan pantalon.

Peniruan juga merupakan alasan, seperti halnya Haji Muhammad, yang diceritakan oleh Pangeran Djajadiningrat, tetapi kurangnya argumen ini tidak dapat diberlakukan pada seluruh penduduk Jawa. Pada tahun 1924, penulis tanpa nama sebuah artikel yang dimuat majalah Djawa, mengajukan pertanyaan yang sama dan menjawabnya, berdasarkan angket, bahwa yang menjadi alasan adalah murahnya harga pakaian Barat.

Menurut pengamat tersebut, sebuah pantalon dan sebuah kemeja harganya hanya 11,80 gulden (Rp95.000,00) , sedangkan untuk memperoleh sepotong kain, sebuah surjan dan sebuah blangkon harus dikeluarkan 17 gulden (Rp135.000,00). Penjelasan itu, perlu mendapat kajian lagi dan penelusuran karena mengingat kondisi perekonomian masyarakat Indonesia di Abad ke 20 itu. Intinya, kalau kita masih menemukan tetangga, temen, saudara atau bahkan kita sendiri masih memegang teguh dengan memakai busana yang sederhana, selain karna ekonomis juga rasa nasionalisme dalam konteks mempertahankan kebudayaan yang sederhana ini dari nenek moyang kita itu bagus hehehe. . . tapi itu pencitraan.

Terimakasih sudah mampir diartikel ini dan jangan lupa mampir ke artikel lainnya ya sobat melek.