Soedarpo Sastrosatomo Sang Raja Kapal dari Tanjung Perak

Soedarpo Sastrosatomo Sang Raja Kapal dari Tanjung Perak
Soedarpo Sastrosatomo Sang Raja Kapal dari Tanjung Perak

Inilah Sosok Pemilik Samuder Indonesia, Soedarpo Sastrosatomo Sang Raja Kapal Indonesia

Raja Kapal Indonesia – Kebijakan penguatan kemaritiman Surabaya oleh Gubernur Jenderal J.J. Rochussen untuk mendirikan sebuah kompleks baru di tepi Kali Mas, untuk menampung bengkel-bengkel dan galangan pembuatan serta reparasi kapal yang di perlukan untuk Angkatan Laut sebagai tanda kebangkitan kemaritiman di ujung timur pulau Jawa. Perencanaan dilakukan secara bertahap, pada tahun 1880 diresmikan dok besar berkapasitas 5.000 ton, pada tahun 1888 dok berkapasitas 1400 ton, dan pada tahun yang sama semua bagian pelayanan armada yang masih terpusat di Teluk Batavia dipindahkan untuk seterusnya ke Surabaya.

Hal tersebut menandakan kembalinya kejayaan masalalu angkatan maritim Nusantara, pada masa Kerajaan Singasari dan Majapahit. Dan setelah kemerdekaan, angkatan Laut yang dibentuk dengan nama Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI), dengan menempatkan markas besarnya di Surabaya  yang sekarang namanya Dermaga Ujung Koarmatim.

Sosok Soedarpo Sastrosatomo lah yang menjadi cikal bakal perintis kejayaan usaha di bidang maritim Indonesia. Beliau lahir pada tahun 1920 di Sumatera, namun orang tuanya adalah Jawa. Ayahnya adalah seorang pegawai kecil di Kantor Regi candu dan garam, sehingga ia sering harus pindah tempat. Ibunya adalah anak wedana, sehingga ia diberinama panggilan anak priyayi, karena orang keturunan sedemikian memang jarang dalam dunia usaha.

Seperti kakak sulungnya, ia ingin melanjutkan pendidikan ilmu kedokteran di Batavia ketika Perang Pasifik meletus. Soedarpo muda kemudian melanjutkan pendidikannya ke Ika Daigaku (nama Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pada saat penjajahan Jepang) jurusan kedokteran. Minarsih Wiranatakusumah yang kelak menjadi istri Soedarpo juga berkuliah di universitas ini tetapi di Yakugaku (jurusan farmasi), sayangnya karena revolus pendidikan keduanya tidak selesai.

Soedarpo bersama Soedjatmoko dikenal sebagai aktivis mahasiswa, terutama di kalangan mahasiswa Asrama Prapatan 10, asrama mahasiswa kedokteran Ika Daigaku. Keduanya mengadakan mogok massal pada bulan Juni 1945 atas aksi pemerintah Jepang yang memerintahkan para mahasiswa untuk digunduli. Aksi mogok massal ini membuat pusing para senior mereka, dari Soekarno, Hatta hingga Ki Hadjar Dewantara yang mengatakan bahwa aksi itu akan merugikan mereka sendiri dan memerintahkan mereka untuk kuliah lagi.

Selama menjadi mahasiswa inilah, Soedarpo, bersama Soedjatmoko dan kakak nya Soebadio Sastrosatomo mendapat binaan dari Sutan Sjahrir, kebetulan istri Sjahrir, Siti Wahjunah Mangoendiningrat (Poppy Sjahrir) adalah kakak tertua dari Soedjatmoko. Para pemuda ini dijuluki “Sjahrir Boys”, anak buah Sjahrir yang membantunya mengatasi aneka masalah.

Baca Juga :

Pada tanggal 14 November 1945 Sjahrir menjabat sebagai perdana menteri, Soedarpo dan Soedjatmoko bertugas di Departemen Penerangan. Sebagai tangan kanan Sjahrir, mereka harus melaksanakan tugas antara lain menjemput Presiden Soekarno yang saat itu berada di Sukabumi untuk kembali ke Jakarta agar serah terima kabinet bisa dilaksanakan dengan lancar, Soebadio ditugaskan untuk menemui Sri Sultan Hamengkubuwono IX agar mulai 4 Januari 1946 kota Yogyakarta jadi tempat kediaman Presiden dan Wapres RI berkenaan dengan teror dari NICA, Belanda di Jakarta, semua tugas itu dilaksanakan dengan baik.

PT Samudera Indonesia
PT Samudera Indonesia

Minarsih Wiranatakusumah (Mien) juga bekerja sebagai sekretarsi di Departemen Penerangan, dan pada tahun 1946 Soedarpo muda memutuskan untuk melamar Mien, tetai pada awalnya hal ini tidak berjalan mulus. Ibu Mien, Sjarifah Nawawi (istri ketiga dari Wiranatakoesoema V) tidak memberikan izin karena belum mengenal Soedarpo.

Nyonya Sjarifah, wanita berdarah Minang yang sejak Mien berumur 2 bulan diceraikan oleh Wiranatakoesoema V, berharap agar Mien menikahi pemuda yang lebih mapan. Pada akhirnya sang ibu memberikan persyaratan, Soedarpo harus mendapat surat izin untuk menikahi Mien dari ayah Mien, Wiranatakoesoemah, yang saat itu menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung di Yogyakarta, dan juga dari paman Mien di Malang. Menurut adat Minang, sang paman inilah pemegang keputusan terakhir.

Saat itu Soedarpo juga sibuk. Pada bulan November 1946, pemuda 26 tahun ini harus bepergian ke Malang menjemput Presiden Soekarno agar datang bersama Wakil Presiden Hatta ke perundingan di Linggarjati, Kuningan, Jawa Barat. Setelah selesai, Soedarpo pergi ke Yogyakarta untuk menyampaikan hasil perundingan antara delegasi Indonesia pimpinan Sutan Sjahrir dan delegasi Belanda pimpinan van Mook kepada Soekarno dan Hatta, yang ketika itu memimpin Indonesia dari Yogyakarta.

Rangkaian perundingan ini kelak dalam sejarah Indonesia dikenal sebagai Perundingan Linggarjati. Setelah mendapatkan lampu hijau dari ayah dan paman Mien, mereka pun bertunangan. Perjanjian Linggarjati akhirnya ditandatangani pada 25 Maret 1947. Soedarpo mendapatkan cuti dua minggu dan mereka lalu memilih 28 Maret 1947 sebagai hari pernikahan.

Perkawinan itu memperkuat kecenderungannya sebagai priyayi dan memungkinkannya memasuki kalangan yang lebih tinggi. Pada saat itu dalam benak dan diri Soedarpo tidak terbersit cita-cita yang dekat dengan dunia kelautan atau maritim. Namun, pada tahun 1948 ia dipilih oleh pemerintah Republik untuk pergi ke Amerika Serikat untuk mewakili Indonesia di PBB dan kalangan pengusaha Amerika.

Pada saat mengikuti acara tersebut ia kemudian berkenalan dengan A.C King, direktur Isthmean Lines, yang mempunyai perhatian untuk angkutan laut Nusantara.kemudian King lah yang merekomendasikan Soedarpo untuk terjun di dunia usaha kemaritiman in, sekaligus mengambal alih perusahaan Belanda di Indonesia yang bernama Ista.

Beberapa tahun kemudian, tepatnya di tahun 1957, Soedarpo memanfaatkan pengusiran Belanda dari Indonesia untuk memperoleh Stroo Hoeden Veem, salah satu dok terbesar di Tanjung Perak, Surabaya. Mulai saat itu usahanya merangkak maju dan berkembang. Diawali dari mendirikan PT. Samudera Indonesia, yang dimaksudkan untuk pengangkutan internasional, dan yang diperlengkapinya dengan kapal-kapal baru dengan menkredit dari Jerman, lalu mendirikan PT. Panirjwan, yang disediakan untuk pengankutan antar-pulau.

Pada tahun 1972, untuk pertama kali memiliki enam kapal dan yang kedua sembilan kapal. Jumlah pekerja dibawah naungan perusahaannya sekitar 2.000 pegawai dan mencapai omset global sebanyak dua miliar rupiah. Soedarpo juga pernah mengalami nasib yang naas pada masa Pemerintahan Soekarno, bahkan pernah masuk penjara, akan tetapi semuanya berjalan mulus lagi memasuki Orde Baru dan pada tahun 1973 ia diberi tanda jasa oleh Laksamana Sudomo sendiri.

Dibalik kesibukan, ialah seorang muslim yang taat, ia naik haji bersama isterinya pada tahun 1967 dan sebagai seorang priyayi yang baik dia mempunyai perhatian pada kejawen atau falsafah Jawa alias beliau sangat peduli dan menjaga spiritualitas. Sehingga banyak pegawainya memanggil beliau dengan sebutan “Kiai”, yaitu sebutan bagi orang yang ahli ibdah dalam agama Islam.

Sekian paparan tentang om Soedarpo Sastrosatomo sang Raja Kapal Indonesia sekaligus pemilik perusahaan pertama perkapalan pasca penjajahan Belanda, jangan lewatkan ulasan menarik lainnya, dan terimakasih sudah mampir ke ayomelek ya.