8 Konglomerat ini Menjadi Raja Media Massa di Indonesia

8 Konglomerat ini Menguasai Media di Indonesia

Perusahaan Media di Indonesia – Hampir setiap manusia membutuhkan akses informasi, salah satu instrumen pendukung yaitu lewat sebuah kegiatan komunikasi. Komunikasi bisa dilakukan dengan langsung bertatap muka dan lewat sebuah media penghubung jarak jauh. Media komunikasi mengalami perkembangan secara signifikan, dimulai dari konvensional hingga sekarang masuk di era digital.

Akses informasi telah menjadi kebutuhan dasar manusia untuk aktual kondisi disekelilingnya. Melalui media massa segala macam informasi diperoleh. Pada tahun 59 SM telah terbit surat kabar pertama yang bernama “Acta Diuma” di Roma pada masa pemerintahan Jullius Cesar yang memuat kebijakan-kebijakan kaisar, pengumuman resmi, dan informasi penting lainnya. Pada saat itu manusia memasuki era informasi melalui media surat kabar.

Surat kabar pertama di Indonesia disinyalir beredar pada masa penjajahan Belanda pada tahun 1587, Jan Pieterszoon Coen memprakarsai penerbitan koran “Memorie der Nouvelles” yang berisi berita dari Belanda dibawa ke Indonesia. Sedangkan surat kabar pribumi yang menggunakan bahasa melayu, baru rilis pada tahun 1855 di Solo bernama “Bromartani” dan pada tahun 1943 terbit koran “Medan Prijanji” dengan menggunakan bahasa melayu serta berisi gambar situasi politik dari sudut pandang nasionalisme.

Perkembangan di dunia teknologi dan informasi terus mengalami perubahan, munculnya media massa dengan memanfaatkan frekuensi suara yaitu radio memudahkan masyarakat mendapat info lebih cepat dan praktis. Tidak berhenti di era radio. Mulai tahun 1920 teknologi informasi yeng menampilkan audio visual bernama televisi mulai dikenalkan, media yang berbentuk kotak dengan dilengkapi layar dan speaker membuat masyarakat sebagai obyek media massa merasakan sensasi lebih emosioal serta memiliki daya tayang lebih lama.

Nah, pada awal 1990an media konvensional beralih dengan munculnya teknologi internet yang menawarkan kemudahan dalam mengakses segala jenis informasi dan terkesan bebas ke seluruh penjuru dunia.

Dibalik media massa, ada pemilik atau owner penyedia jasa. Di Indonesia sendiri awal kemunculan media massa surat kabar digunakan sebagai upaya propaganda penjajah, seperti halnya Berita Indonesia yang kala itu oleh sang owner Edi Soeradi digunakan sebagai sebuah seruan agar masyarakat datang pada Rapat Raksasa Ikada dan kemudian dibredel. Kebanyakan pemilik media massa pasca kemerdekaan di Indonesia menggunakan media mereka untuk alat kontrol pemerintahan. Seperti surat kabar “Suara Indonesia” dan “Pedoman Harian”.

Namun, belakangan keberadaan media di Indonesia mengalami perubahan yang drastis, media di Indonesia tumbuh lebih majemuk dan komperhensif, lebih berwarna serta melahirkan peluang bisnis. Media massa yang dulu terbilang kaku dan idialis kini lebih variatif. Kemajuan teknologi, serta kebutuhan konsumen akan informasi yang tidak hanya berbau berita, politik, namun juga hiburan. Sehingga banyak pengusaha atau konglomerat Indonesia menangkap peluang ini dan kemudian mendirikan sebuah perusahaan media yang lebih kompetitif.

Mungkin dari kita masih asing dengan siapa dibalik layar televisi yang setiap hari kita nikmati berbagai acara-acara menarik sehingga memberikan berbagai macam informasi terkini dan aktual serta bisa mengetahui kehidupan diluar sana tanpa harus kita repot-repot pergi kesana. Berikut ulasan mengenai kempemilikan media Indonesia.

8 Pengusaha ini Menjadi Raja Media di Indonesia

1 Chairul Tanjung (Trans Corp)

Anak seorang mantan jurnalis pada masa Orde Lama ini mengawali karir sebagai wirausahawan bersama tiga temannya dengan mendirikan sebuah perusahaan konveksi sepatu anak-anak bernama PT Pariarti Shindutama. Pangsa pasar perusahaannya adalah luar negeri dan pernah mendapat tender 160 ribu pasangan sepatu ekspor ke Itali. Namun, jalan lain membuatnya hengkang dan memulai bisnis lain yaitu dibidang konglemerasi properti dan perbankan.

Chairul Tanjung yang akrab dengan sebutan si anak singkong ini kemudian mereposisikan bisnisnya ke tiga bidang sekaligus, yaitu perbankan, properti dan multimedia. Setelah sukses peruntungannya di dunia perbankan lewat Bank Mega dan beberapa perusahaan properti. Semua perusahaan milik CT ini kemudian dikomando oleh father holding company bernama Para Group, yang membawahi tiga sub holding company lainnya, seperti Para Global Investindo (bisnis perbankan), Para Inti Investindo (bisnis media dan investasi), dan Para Inti Propertindo.

Sukes dengan platform media TransTv pada tahun 2006, CT membeli saham salah satu stasiun televisi swasta bernama TV7 milik kompas dan kini bernama Trans7 itu melalui serangkaian diskusi dan negosiasi panjang yang kemudian jatuh ketangan TransCorp. Mengusung konsep kekinian dengan menggunakan tenaga pekerja didominasi anak muda Trans7 berhasil menjadi salah satu stasiun televisi swasta yang mampu memperoleh popularitas tinggi serta laba perusahaan naik dari saudaranya TransTv.

Era analog sukses dilewati Chairul Tanjung dengan memiliki 2 stasiun televisi ternama di Indonesia dengan terus menambah laba Para Groupnya. Persaingan dunia bisnis multimedia di Indonesia sangat ketat meski hanya sedikit pemain didalamnya. Pesaing ketat TransCorp yaitu MNC grup milik pengusaha kaya raya Indonesia Hary Tanoesoedibjo dan Visimedia Asia milik politikus kawak Aburizal Bakrie.

Dengan merubah TransCorp menjadi konglemerasi digital, Chairul ingin menambah pendapatan sekaligus menaikkan popularitas medianya dengan membeli detik.com pada tahun 2011 senilai 540 miliar rupiah. Tidak berhenti disitu upaya mengembangkan kualitas konten supaya mendapat perhatian lebih penonton Chairul juga membeli salah satu jaringan komunikasi pada tahun 2012 Telkomvision yang dirubah nama menjadi Transvision.

Perkembangan teknologi komunikasi berlangsung sangat cepat membuat Chairul Tanjung untuk mengejar ketertinggalan. Menurutnya segmen pasar media tradisional atau konvensional saluran televisi gratis akan mengalami penurunan. Sehingga fokus pengembangan industri dan konglemerasi media Indonesia memasuki era digital atau internet. Hal tersebut membuatnya melakukan terobosan dan manuver bisnis seperti pada tahun 2013 TransCorp melakukan kerjasama dengan perusahaan media terkemuka di Amerika Serikat, CNN. Dengan mengusung tema media berita fulltime atau 24 jam seperti konsep media milik Surya Paloh Metro TV dan TV One milik Bakrie.

Selain itu pada tahun 2016 TransCorp melakukan kerjasama lagi dengan media luar negeri, kali ini dengan CNBC yang menawarkan konsep media berita khusus bisnis dan financial selama 24jam, tidak hanya itu kedua saluran televisi baru milik TransCorp ini dibranding khusus untuk saluran televisi digital dan berbayar.

Lewat detik.com TransCorp berusaha untuk menguasai media daring di Indonesia serta beberapa platform acara di 2 saluran televisi juga disambungkan ke beberapa sosial media. TrnasCorp masih akan menyiapkan lahan 200 hektar di Jakarta untuk menampung 50 studio televisi, yang mampu mengumpulkan semua berita dari pelosok negeri dan nantinya menjadi terpusat. Tak heran jika kami memasukkan Chairul Tanjung sebagai raja media Indonesia karena lewat bisnis media massa beliau mampu menguasai sebagian segmen telekomunikasi di Indonesia.

2 Hary Tanoesoedibjo ( Global Media Com)

Pria kelahiran kota pahlawan Surabaya ini lain cerita dengan Chairul Tanjung. Hary Tanoesoedibjo lebih dulu merintis karir di dunia media dan komunikasi. Pascareformasi Hary Tanu sapaan akrab merintis bisnis media melalui investasi dan membangun sebuah konsorsium bersama Astra internasional, George Soros dan Singapore Investment Corporate.

Konglemerasi media di Indonesia milik Hary Tanu ini diawali pada tahun 2000 dengan mengakuisisi tiga stasiun televisi gratis, antara lain MNC, RCTI dan Global TV. Perusahaan media milik Hary Tanu ini bernama Global Media Com dengan anak perusahaan MNC Grup yang mengurus ketiga stasiun televisi tersebut. Pertengah tahun 2000 MNC Grup memulai menancapkan gas untuk menguasai media massa terbesar di Indonesia.

Dengan sedikit melakukan perubahan manajemen dan konten dari pemilik sebelumnya, tanpa mengurangi subtansi atau ciri khas dari setiap stasiun televisi milik MNC Grup ini. Selain untuk membesarkan dinasti media, beberapa kali sang owner juga memanfaatkan medianya untuk membranding personal dalam bidang politik. Hal tersebut dikarena sang pemilik pernah masuk dalam elite parpol di Indonesia, seperti di Hanura dan Nasdem.

Setelah memutuskan keluar dari Partai Nasdem milik sahabatnya Surya Paloh, Hary Tanu pun mendirikan organisasi partai politik sendiri yaitu Partai Persatuan Indonesia atau Perindo pada tahun 2015. Meski beliau memiliki kesibukan di dua ranah yang berbeda, sosok pebisnis keturunan Thionghoa ini masih memiliki keseriusan dalam mengelola perusahaan medianya. Ditengah-tengah naik turunnya segmen media konvensional tidak menutup kemungkinan beliau melakukan inovasi bisnis untuk mengembangkan bisnis media.

MNC Grup telah memiliki 34 stasiun penyiaran radio diseluruh Indonesia. Selain itu Hary Tanu juga mempunyai surat kabar bernama Koran Sindo dan media daring Okezone.com dan Sindonews. Ada tiga stasiun radio unggulan milik Hary Tanu antara lain Trijaya FM, ARH Global dan Radio Dangdut. Konten media milik Hary Tanu ini mungkin memiliki segmen cukup luas dan memang ditarget untuk kebutuhan kelas menengah kebawah, karena hampir semua stasiun televisi unggulan disegmen hiburan rakyat seperti sinetron, talkshow dan musik.

Sumber utama finansial perusahaan media milik Hary Tanu ini adalah pengiklanan. Dalam beberapa tahun ini mengalami peningkatan yang signifikan. Diera digital ini MNC Grup juga terus menggenjot kanal media sosial berbasis web berupa berita daring. Seperti pesaingnya TransCorp, MNC Group juga memiliki infrastruktur telekomunikasi bernama Globalmediacom, serta memiliki satelit sendiri dengan kapasitas 160 saluran, MNC juga memiliki 19 kanal televisi berbayar, 46 stasiun lokal, dan 2,6 pelanggan televisi kabel IndoVision, TopTV, dan OKVision.

Untuk memperkuat sumber cadangan finansilanya, perusahaan yang berkantor di Jakarta ini terus melakukan ekspansi dalam bisnisnya, misal pada tahun 2013, Hary Tanu membeli saham perusahaan papan reklame JC-Deco serta bermitra dengan WeChat, salah satu perusahaan aplikasi pesan singkat android. Pada tahun 2015 MNC meluncurkan situs e-commerce MNC dan situs gaming joymen.com

Tidak ingin kalah dengan pesaing, Hary Tanu juga meluncurkan siaran berita 24 jam dengan nama i-News. Menghabiskan AS$250 juta Hary Tanu membuat 40 studio yang mampu memanajemen semua berita dari seluruh penjuru dunia dan terpusat di Jakarta, kemudian didistribusikan melalu saluran televisinya. Majalah asing Forbes memasukkan Hary Tanu ini sebagai orang terkaya dan berpengaruh di Indonesia.

3 Eddy Sariaatmadja ( EMTEK)

Bagi kalian penggemar serial FTV di Indonesia, kurang afdol kalau tidak menyebut saluran televisi swasta bernama SCTV. Hampir 20% penonton televisi di Indonesia adalah pelanggan setia stasiun televisi yang terkenal dengan serial sinetron yang berbau cinta-cintaan. Siapa sebenarnya dibalik layar televisi SCTV ini? Yaktul PT EMTEK (Elang Mahkota Teknologi) yang dimiliki oleh dua bersaudara yaitu Eddy dan Fofo Sariaatmadja.

Kedua saudara ini adalah pengusaha yang sukses dibidang teknologi dan komunikasi. Dengan melihat peluang besar di dunia media massa mereka akhirnya membeli saham stasiun televisi milik keluarga Soeharto, yaitu SCTV meski demikian sang faunding mbak Tutut dan Mas Dandy Rukmana tetap menjadi bagian penting manajemen.

PT Emtek berhasil mendirikan sebuah kerajaan media dengan melalui konglomerasi media dan telekomunikasi siaran gratis, media daring dan media luar ruangan “papan reklame”. Selain SCTV, Eddy masih punya dua stasiun televisi lain seperti Indosiar dan O-Channel (khusus wilayah Jakarta) dan salah satu pemancar radio terkemuka El Shinta. Pembelian Indosiar pada tahun 2011 membuat Emtek bisa bersaing di dunia bisnis multimedia bersama TransCorp dan Globalmediacom.

Untuk mempercepat dan mempermudah dalam mengelola perusahaan media, Emtek juga membuat sebuah divisi khusus yang menangani konten untuk semua kegiatan siaran. Divisi kontennya bernama PT Indonesia Entertaiment Group. Hal tersebut bertujuan untuk merampingkan sistem, sebagai contoh SCTV dan Indosiar tidak lagi menaruh jurnalis diberbagai daerah, melainkan mereka menggunakan pihak ketiga yang nantinya akan dibeli konten informasinya.

Sumber utama finansial Emtek berasal dari televisi analog, tidak menutup kemungkinan mereka juga melakukan sebuah gebrakan agar tidak tertinggal dengan pesaing. Salah satu strateginya dengan menggabungkan jaringan stasiun televisi kepada platform digital yang berbasis media daring. Salah satunya adalah kanal berita liputan6.com.

Selain itu, menurut kepala Digital dan Teknologi Emtek Adi Sariaatmadja, anak kedua Eddy Sariaatmadja bahwa Emtek juga akan menyediakan layanan berbasis digital seperti, informasi berita daring, hiburan, gaya hidup, portal mencari lowongan kerja, perjalan, e-commerse dan e-ticketing dengan memanfaatkan sistem mobile streaming.

Layanan mobile streaming dan siaran televisi berbayar milik Emtek ialah NEX, yang resmi rilis pada tahun 2011. Dengan membangun komponen infrastruktur multimedia, Emtek masih menjadi petarung kuat dalam pergulatan konglemerasi media massa di Indonesia. Semua berkat kegigihan dan konsisten sang owner serta mampu menerapkan manajemen perusahaan yang proporsional sehingga mampu memberikan angin segar baik ke internal perusahaan maupun eksternal.

4 Aburizal Bakrie ( Visi Media Asia)

Pengusaha yang sempat menduduki peringkat pertama orang terkaya di Indonesia sudah tidak diragukan lagi kiprahnya, Aburizal Bakrie yang akrab dengan panggilan Bakrie, ical atau ARB. Mengawali karirnya menjadi pengusaha di perusahaan milik keluarga bernama Bakrie Group dan menjabat sebagai asisten dewan direksi PT Bakrie Group. Perusahaan yang berkonsentrasi pada sektor pertanian dan perkebunan ini terus mengalami pertumbuhan, sehingga mengembang kedunia industri pertambangan, alat berat, properti dan multimedia.

Perusahaan multimedia milik keluarga Bakrie bernama Visi Media Asia. Perusahaan ini megalami pasang surut dalam perjalanan. Untuk menyelesaikan permasalahan tersebut Bakrie menyerahkan sepenuhnya komando perusahaan kepada Anindya putranya dan dibantu oleh adik kandung Bakrie, Nirwan yang juga pengusaha sukses.

Pada tahun 2007 Bakrie (Visi Media Asia) resmi membeli stasiun televisi gratis bernama Lativi yang sedang terlilit utang. Mereka kemudian merubah konsep dan nama, menjadi TVOne yang diproyeksikan sebagai saluran televisi berita 24jam sebagai pesaing MetroTV milik Surya Paloh. Sebelum keberadaan TVOne, Bakrie Grup sudah mempunyai stasiun televisi bernama ANTV.

Pada tahun 2008 resmi membeli saluran televisi lokal ArekTV di Surabaya dan Surabaya Post. Dengan demikian Bakrie Group telah mengkonglomerasi media massa, sehingga armada tempur bisnis multimedia kian lengkap dan seimbang dengan pesaing. Untuk mendukung langkah konglomerasi media massa Bakrie Group juga membuat sebuah infrastruktur telekomunikasi sendiri dalam mendukung operasional dan percepatan, bernama Bakrie Telecom.

Untuk mengejar ketertinggalan dalam bidang digitalisasi, perusahaan multimedia Bakrie Group melakukan kerjasama dengan pengusaha muda Erick Tohir. Salah satu strategi yang mereka lakukan dan kembangkan yaitu mengahadirkan sebuah sistem media yang terkoneksi internet sehingga memudahkan pengguna. Layanan yang ditawarkan yaitu media daring dan platform media digital berbais web bernama viva.co.id.

Meski perusahaan Bakrie Group sempat mengalami berbagai permasalahan, seperti gugatan hukum kreditur dan beberapa usahanya mengalami penurunan, sempat ada wacana penjualan saham salah satu stasiun televisinya Antv. Namun, sampai hari ini masih milik keluarga Bakrie. Menurut Anindya, salah satu kekuatan finansial keluarganya saat ini yang prospek ialah bisnis bidang multimedia. Terbukti sahamnya diharga Rp 268, jauh lebih tinggi dari saham-saham perusahaan milik keluarga Bakrie seperti di bidang perkebunan, manufaktur, pertambangan dan properti.

Dengan demikian optimis yang dimiliki keluarga Bakrie dalam mengelola dan mempertahankan perusahaan multimedia menjadi jawaban bahwa Visi Media Asia masih menjadi perusahaan media di indonesia yang diperhitungkan.

5 Surya Paloh ( Media Group )

Berbeda dengan rekan sejawatnya, Surya Paloh memulai karir di dunia media diawali dari menjadi jurnalis dan berinvestasi melalui media cetak sejak tahun 1980an. Media Indonesia, media surat kabar pertama yang dimiliki Media Grup, nama konglomerasi media massa Surya Paloh. Dengan semangat idealisme yang dimiliki selama terjun di dunia pers membuatnya memiliki banyak bekal dalam mendirikan kerajaan media di Indonesia hingga sekarang.

Meski diawali dengan membangun bisnis percetakan dan industri media cetak, justru melalui satu-satunya stasiun televisi yang didirikan pada tahun 2001 MetroTV, Surya Paloh meraih pundi-pundi kekayaan. MetroTV menjadi stasiun televisi berita 24jam pertama di Indonesia.

Seperti perusahaan media lainnya, Media Grup juga mensinergikan media konvensionalnya dengan media daring berbasis internet. Dua kanal mereka siapkan untuk memanjakan pengguna, metrotv.com dan mediaindonesia.com. Namun, pada tahun 2012 owner Media Grup memerger kedua kanal berita daring, menjadi metronews.com. Hal tersebut dipilih karena tidak ingin gambling dengan memiliki dua kanal berita dalam satu manajemen.

Konsep yang ditawarkan Surya Paloh mungkin sangat sederhana, dengan memilih fokus konten dari kedua medianya. Media Indonesia berfokus untuk menyebarkan konten berita teraktual, sedangkan portal metronews lebih kepada informasi berita daring, ekonomi, bisnis, politik dan berbentuk audio visual. Sehingga pemirsa memiliki dua pilihan sajian berita yang tidak membosankan. Meski Media Indonesia belum memiliki saluran televisi berbayar dan mobile streaming sendiri, tidak menutup kemungkinan nanti akan segera berkembang kesana, agar konglemarisi media massa tidak runtuh.

Konten dengan menawarkan sajian multi platform dan multi bahasa, menjadikan MetroTV satu-satu stasiun televisi gratis yang memiliki ceruk pasar tersendiri. Seperti pemakaian bahasa mandarin dan Inggris. Dengan demikian Media Indonesia Corp mampu menjadi kerajaan media massa di Indonesia hingga saat ini.

6 James Riady ( BeritaSatu )

Salah satu anggota keluarga keturunan thionghoa terkaya di Indonesia ini baru terlihat dalam lingkaran raja-raja media di Indonesia awal tahun 2000. James Riady memiliki perusahaan induk bernama Lippo Grup, yang memiliki berbagai jenis bidang usaha, mulai dari perbankan, kontruksi, perhotelan, swalayan, manufaktur, perkebunan, pertambangan hingga merambah dunia media. Mengawali karir dengan membeli salah satu media cetak harian berbahasa Indonesia, Suara Pembaruan pada tahun 2006. Dan sudah menerbitkan dua majalah Globe Asia dan Investor Daily dengan segmen pasar tidak hanya Indonesia saja.

Terkesan berbeda dengan raja media sebelumnya, James Riady ini ingin mencoba peruntungan leawat jalur media cetak. Selain mempunyai Suara Pembaruan dan dua majalahnya, pada tahun 2008 James mencoba membuat sebuah surat kabar dengan berbahasa Inggris, diberi nama The Jakarta Globe. Dengan mempekerjakan banyak jurnalis asing dan beberapa jurnalis Jakarta Post.

Menurut beberapa sumber mengatakan bahwa, James ini terkesan berambisius dalam mengejar rate sebuah media cetak. Ingin menjadi “Rupert Murdoch” Asia Tenggara nampaknya, dan mengangkat John anaknya sebagai editor.

James Riady merasa kurang puas dengan capaian surat kabar dan majalahnya, melihat kondisi belakangan dengan kemajuan teknologi, disinyalir masyarakat akan berpindah ke online. Sehingga, dengan cepat James mencoba untuk membuat konglemerasi media massanya berbasis daring dan terhubung dengan internet.

Melalui MediaSatu semua manajemen media milik James ini dintegrasikan. BeritaSatu Media Holding menjadi induk perusahaan medianya, yang termasuk stasiun televisi berbahasa Indonesia dan Inggris serta platform media daring. BeritaSatu juga mempunyai stasiun berbayar, BigTv namanya.

7 Dahlan Iskan ( Jawa Pos Grup )

Mantan Menteri BUMN kabinet Indonesia Bersatu jilid II Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini memulai karir menjadi wartawan disalah satu perusahaan jurnalistik di Indonesia. Peluang bisnis media massa membuatnya kemudian mendirikan sendiri kerajaan media di Kota Pahlawan, Jawa Pos Grup namanya.

Dahlan Iskan mungkin salah satu owner media yang mampu membuat konglemerasi media dengan cepat dan mencetak sebanyak 140 media surat kabar yang tersebar di berbagai daerah. Meski Jawa Pos mendominasi media cetak di Jawa Timur, tidak untuk di Jakarta. Indo Pos salah satu surat kabar milik Jawa Pos Grup yang memiliki segmen pasar di Ibukota mengalami kegagalan dan cenderung kalah dengan Kompas sang kompetitor.

Menghadapi era digitalisasi, akhirnya Jawa Pos membuat sebuah terobosan sistem baru yaitu Jawa Pos News Nettwork (JPNN). Sebuah pilihan platform yang merambah dunia televisi, radio dan media online. Fokus awal perusahaan ini di daerah, dengan melakukan banyak merger dan pembelian beberapa media cetak lokal yang dirasa kekurangan modal, salah satu cirinya yaitu berawalan nama radar. Sehingga membuat Dahlan semangat untuk menjadikan mereka bagian dari Jawa Pos Grup.

Konsep tersebut terbilang sukses, dengan estimasi pengeluaran yang minim, namun bisa mendatangkan penghasilan dua kali lipat, dengan memanfatkan sumberdaya lama untuk memoles dan mensinergikan, menjadikan kinerja Dahlan lebih efektif dan efisien dalam mengelola kerajaan medianya.

8 Jacob Oetama ( Kompas Grup )

Buat pelanggan buku di gramedia, ini dia sang empunya om Jacob Oetama salah satu raja media terkaya dan berpengaruh seantero Indonesia. Menjadi surat kabar terbesar di Indonesia, Kompas memiliki waktu lama untuk menjalin kemitraan dengan Gramedia sang penerbit kawak.

Kompas Gramedia Grup sama seperti sejawatnya Jawa Pos Grup, mampu menguasai pangsa pasar koran-koran lokal dan banyak melakukan merger, dengan memiliki ciri, nama depan tribun. Dalam menghadapi kemajuan jaman, perlu dilakukan sebuah konglemerasi media yang terintegrasi dengan internet.

Pada tahun 2015 terhitung 450 personil jurnalis yang senantiasa berkontribusi pengisian konten media darling Kompas, kompas.com namanya. Pernah berada di urutan kedua setelah detik.com membuat integritas dan kualitas konten yang ditawarkan tidak mengalami penurunan.

Sempat melepas stasiun televisinya kepada TransCorp yaitu TV7, pada tahun 2008 Kompas pun merilis saluran televisi gratisnya yaitu KompasTV. Tidak ingin tertinggal dengan pesaingnya dalam menjaga konglomerasi media, dalam menunjang kebutuhan telekomunikasi, kini Kompas sudah memiliki infrastruktur multimedia. Selain itu, Kompas Grup juga merambah kedunia layanan saluran televisi berbayar, bahkan menyediakan layanan provider sendiri, K-Vision namanya.

Nah, itu dia ulasan menarik kali ini mengenai sosok dibalik layar media massa yang hampir setiap hari kita konsumsi dan jadikan referensi dalam berwawasan, kebutuhan akan informasi dan hiburan menjadikan mereka yang memiliki kemampuan dan modal besar untuk menjalankan usaha penyedia layanan multimedia. Merekalah 8 Konglomerat yang Menjadi Raja Media Massa di Indonesia untuk beberapa dekade mendatang. Semoga informasi ini menambah wawasan kita dan terimakasih atas supportnya ya, nantikan ulasan selanjutnya yang tidak kalah menarik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *