Orang Laut Penyebar Ideologi Keselamatan

Orang Laut Sang Penyebar Ideologi Keselamatan
Orang Laut Sang Penyebar Ideologi Keselamatan

Orang Laut atau Suku Laut Sang Penyebar Ideologi Keselamatan

Budaya Suku Laut – Dalam benak kita ketika mendengar istilah orang laut, atau seorang pelaut pasti hanya sekedar pencari ikan sebagai mata pencaharian saja. Namun, ketika kita mendengar istilah nenek moyang kita adalah seorang pelaut, mungkin sangat kurang pas jika kita umpamakan sebagai seorang nelayan saja, sebenarnya sosok nenek moyang kita seorang pelaut itu siapa dan apakah mempunyai tujuan hidup selain sekedar mencari ikan.

Banyak literasi sejarah yang mengatakan sisa dari peradaban atau sebuah entitas perantau pengitar samudra, melekat dalam diri orang suku Bugis. Jaringan pelaut dari suku Bugislah yang menurut beberapa sejarah mengatakan eksistensinya masih terpelihara sampai sekarang.

Hal tersebut terlihat dari kehadiran mereka di mana-mana dengan sosok perahu layar pinisi yang terdapat berpuluh-puluh, dan belum lama beratus-ratus jumlahnya disemua pelabuhan besar, seperti di Jakarta, Surabaya, Banjarmasin dan juga Palembang. Di Sulawesi sendiri terdapat jenis atau model kapal penisi antara lain ; lambo, pajala atau jarampa yang di buat di galangan kapal di Teluk Bone, di Sua-sua dan Ponrang, di daerah Palopo, dan terutama di Bira, agak keselatan di daerah Bulukumba, dekat Tanjung Lassa tepat arah masuk teluk Bone.

KRI Dewa Ruci

Banyak yang mengira dari kita kalau semua kapal layar itu hanya pengulangan dari model lama atau tradisional. Padahal pembuatnya senantiasa memperbaiki dan mengubahnya (seperti menambahkan mesin penggerak motor) dan bisa dikatakan mereka terus mengembangkan riset perbaikan kualitas.

Tipe kapal yang sekarang kita lihat sangat berbeda dengan kapal yang diproduksi pada tahun 1874 oleh misionaris dan ahli filologi B.F Matthes dalam Atlas Etnografi yang melengkapi kamus bugisnya. Kira-kira butuh tiga bulan untuk menyelesaikan sebuah pinisi berkapasitas kecil (150 ton) yang lebih besar bisa muat 250 ton.

Orang bugis sendiri sudah lama mengarungi perairan kepulauan Indonesia, dan sekurang-kurangnya sejak abad ke 16. Pemukiman mereka tersebar hampir dimana-mana. Pada abad ke 18, mereka berada di Selat Malaka. Mereka terlibat erat dalam sejarah Selangor dan Kesultanan Riau. Pada abad ke 19 mereka membawa kapal untuk mencari tripang sampai ke pantai-pantai utara Autralia, dan beberapa perkemahan mereka ditemukan beserta kuali besar buatan Cina yang mereka gunakan untuk mengolah tripang sebelum dibawa.

Pada tahun 1931 kelompok masyarakat Bugis di Surabaya, dibawah pimpinan Nadjamuddin Daeng Malewa dan dengan dukungan pemimpin nasionalis Dr. Sutomo, mendirikan sebuah perserikatan maritim, namanya Ruplin (Rukun Pelayanan Indonesia), dengan tujuan mengumpulkan pengusaha perkapalan dari Sulawesi dan memperbaiki organisasi pelayaran penisi, sebuah usaha berani yang membuat Kompeni Belanda KPM merasa tersinggung.

Dermaga Ujung Koarmatim

Sampai sekarang orang Bugis masih mengangkut barang di lautan Indonesia. Mereka hampir mempunyai perwakilan di setiap pulau, di Kalimantan Timur, terutama Samarinda, yang dianggap salah satu pendirian mereka di seberang (konon namanya datang dari Sama Rendah), di Kepulauan Sangir dan Talaud, di Negeri Johor di Semenanjung Melayu (terutama di daerah Pontian), di beberapa tempat di Sumatera, di Jawa (Surabaya, Tegal, bahkan di selatan dekat Nusa Kambangan), di Sumbawa, di Flores sampai di Irian, di Jayapura, tempat mereka dengan aktif menyebarkan agama Islam.

Laksamana H.M. Nazir, anak pedagang keturunan Minang yang dibesarkan pamannya di Tanjungpura, di Pantai Timur adalah tokoh pelaut dari jaringan di bagian barat Indonesia. Dialah orang Indonesia pertama yang memperoleh diploma Sekolah Pelayaran di Vlissingen pada tahun 1932. Beliau bekerja sebagai mualim, lalu selama pendudukan Jepang memimpin Sekolah Pelayaran di Semarang.

Baca Juga :

Dari 1946 hingga 1950 ia membentuk armada Indonesia dan menjadi Menteri Perhubungan Laut dari tahun 1957 hingga 1959. Meskipun bagian terpenting dari lalu lintas laut masih tetap dipegang dengan kukuh oleh kaum muslim, sebaiknya perlu kita ingat bahwa sejumlah pelaut juga berasal dari provinsi seperti Manado dan Ambon yang beragama Nasrani, ada diantara mereka yang bahkan berhasil menduduki jabatan-jabatan tertinggi, seperti Kapten Matheys Jacob Hahijary, yang lahir di Jakarta pada Tahun 1925 dari orang tua Ambon dan yang sesudah menyelesaikan pendidikan di Negeri Belanda, pada tahun 1969 ditugasi memegang pimpinan salah satu armada maritim yang paling penting di Indonesia, Jakarta Lloyd, yang mengelola 19 kapal (200.000 ton seluruhnya) dan mempekerjakan lebih dari 2.800 orang.

Itulah jawaban singkat, nenek moyang kita bukan sekedar pengembara dilautan lepas, yang hanya mengejar ikan dan tripang hingga ke Australia, namun juga memiliki misi yang mulia, dari membuat jaringan perdagangan, keamanan, hingga mendirikan beberapa kanal akademis dibidang kemaritiman. Kesederhanaan bukan berarti apa adanya dan pasrah dengan keadaan yang hanya akan menggerus kita dan hilang begitu saja. Terimakasih saudara Bugis sang pemelihara lautan Nusantara ini.

Itulah gambaran mengenai orang laut penyebar ideologi keselamatan dan menjadi cikal bakal nenek moyang kita, terimakasih atas perhatiannya dan sampai jumpa di artikel selanjutnya ya sobat melek.