Ini Dia!!! Nama Lain Opium yang Menjadi Komoditas Dagang Menggiurkan Namun Perusak Generasi Bangsa Nomor Satu di Dunia

opium nama lain narkotika
opium nama lain narkotika

Nama Lain Opium yang Menjadi Komoditas Dagang Menggiurkan Namun Perusak Generasi Bangsa Nomor Satu di Dunia, 

Tanaman yang mengandung narkotika itu namanya opium, – Istilah candu atau kecanduan sering melekat dengan orang-orang yang sering mengkonsumsi obat-obatan terlarang, seperti narkotika, heroin, sabu-sabu, opium atau buah candu, masrum dan lain sebagainya yang mengandung beberapa zat adikif berbahaya bagi syaraf manusia. Istilah candu sendiri sudah sangat melekat bagi masyarakat kita (Indonesia), yaitu pada abad ke 17 saat Indonesia dikuasai oleh bangsa Eropa (VOC) yang melakukan ekspansi besar-besaran dengan tujuan mendirikan serikat dagang internasional di belahan bumi timur.

Keberadaan bangsa Eropa di Indonesia lah yang mengawali mengenalkan istilah candu sekaligus cara pemakaian dan kegunaannya, dengan tujuan sebagai komoditas perdagangan yang menggiurkan juga disisi lain sebagai strategi perang yang aman dengan cara merusak budaya masyarakat lokal, merusak kesehatan tubuh dengan candu opium secara otomatis kualitas masyarakat lokal menjadi buruk, selain merusak syaraf dalam tubuh juga kecanduan opium bisa menimbulkan efek sampai kematian.

Iming-iming awal pemakaian opium atau buah candu sendiri bertujuan untuk membuat dopping tubuh agar senantiasa bugar dan tetap energik, karena pada saat itu, masyarakat lokal (pribumi) tenaganya benar-benar diperas oleh VOC dengan dijadikan budak, pekerja kasar dan cenderung dipaksa. Tidak ada pilihan lain selain harus mengkonsumsi opium untuk tetap bertahan hidup, selain itu pemakaian opium pada waktu itu juga dari kalangan seniman, musisi, pedagang keliling, dan para petani sebagai penikmat sensasi khayalan, merajut mimpi dan mengurangi rasa pegal-pegal.

Opium atau buah candu sendiri adalah sebuah tanaman semusim yang hanya bisa dibudidayakan di pegunungan kawasan subtropis. Tinggi tanaman hanya sekitar satu meter. Daunnya jorong dengan tepi bergerigi, bunga opium bertangkai panjang dan keluar dari ujung ranting. Satu tangkai hanya terdiri dari satu bunga dengan kuntum bermahkota putih, ungu, dengan pangkal putih serta merah cerah.

Bunga opium atau juga sering disebut bunga Poppy sangat indah hingga beberapa spesies Papaver lazim dijadikan tanaman hias. Bunga opium juga mempunyai buah yang berbentuk bulat sebesar bola pingpong berwarna hijau. Nah, yang sering dijadikan sebagai obat penenang atau sebagai candu yaitu olahan dari buah opium.

Dengan cara dipukul atau cukup digores dengan pisau, kemudian buah mengeluarkan cairan atau getah kental berwarna putih, dan setelah mengering berwarna cokelat, kemudian getah candu dipungut dan dipasarkan sebagai opium mentah. Opium mentah ini bisa diproses secara sederhana hingga menjadi candu siap konsumsi, jika getah candu ini diekstrak lagi akan menghasilkan Morfim.

Morfim yang diekstrak lebih lanjut lagi akan menghasilkan heroin. Oiya, tanaman candu atau opium ini berasal dari kawasan pegunungan Eropa Tenggara yang sekarang telah menyebar sampai ke Afganistan dan segitiga emas perbatasan Myanmar, Thailand, dan Laos. Menurut PBB, Afganistan saat ini merupakan penghasil opium atau daun candu terbesar di dunia sekitar 87%. Sedangkan di Indonesia banyak ditanam dikawasan pegunungan seperti, Cipanas, Bandungan, Batu dan Ijen.

Sebuah perusahaan opium pernah didirikan di Indonesia pada masa penjajahan Belanda tepatnya pada pemerintahan Baron Van Imhoff. Modalnya dibagi menjadi saham-saham yang masing-masing senilai dua ribu rixdollar dan sampai sekarang hanya setengahnya saja yang telah dipenuhi. Namun, sisanya bisa dipenuhi kapan pun jika diperlukan.

Deviden yang tidak sama, namun sangat besar, dan saham-saham dijual diatas harga sebenarnya, dan mereka umumnya berada ditangan para kanselir Hindia Belanda. Manajemen perdagangan ini dipercayakan kepada seorang direktur, yang juga seorang kanselir Hindia Belanda, dua orang bertindak sebagai pemilik, seorang sebagai kasir dan seorang lainnya sebagai petugas pembukuan.

Setiap peti opium oleh VOC dihargai 250 rixdollar, terkadang juga 300 rixdollar, dan dijual kepada masyarakat seharga 500 rixdollar juga bisa lebih. Disisi lain VOC diwajibkan untuk tidak menjual obat ini kepada pihak lain. Pengecernya mendapat keuntungan besar, antara 800 sampai 900 rixdollar, bahkan bisa lebih untuk setiap petinya.

Baca Juga :

Keuntungan lebih besar lagi jika monopoli dagang ini diperketat untuk seluruh jumlah opium yang dikonsumsi di bagian timur Hindia, meskipun VOC  telah melarang para pegawainya untuk terlibat dalam perdagangan ini, terutama para pelautnya, dengan ancaman hukuman mati yang mengerikan, dan telah melarang impor ke salah satu badan usaha mereka oleh negara-negara asing.

Meskipun dengan dilakukan penyitaan kapal dan kargonya, pelanggaran masih saja terjadi, karena emang keuntungannya besar sekali, dan ini menyebabkan kerugian untuk masyarakat. Mereka yang terlibat dalam perdagangan gelap ini sangat lihai mengambil tindakan pencegahan untuk mengurangi resiko ketahuan.

Candu sendiri merupakan komoditas penting yang pada awalnya diperebutkan oleh Inggris, Denmark dan Belanda, namun kemudian Belanda yang memenangkan monopoli perdagangannya, sedangkan pelaksananya adalah para elit China di Jawa. Belanda melalui kompeni di Hindia Timur (VOC) pada tahun 1677 mendapat perjanjian dengan raja Jawa pada saat itu, Amangkurat II untuk memasukkan candu ke daerah Mataram dan sekaligus memonopoli perdagangan candu di seluruh negeri. Perjanjian serupa juga diikuti Cirebon setahun kemudian.

VOC bisa memasukkan 56.000 kg opium mentah setiap tahun ke Jawa. Dan pada tahun 1820 tercatat 372 pemegang lisensi untuk menjual opium secara legal. Para penikmat dan pemakai candu terbesar di berbagai kalangan berada di Jawa khususnya Jawa Tengah dan Jawa Timur. Bagi mereka kalangan menengah ke atas, mengkonsumsi candu sudah menjadi gaya hidup, disuguhkan sebagai tanda kehormatan bagi para tamu di rumah bangsawan Jawa dan Cina, namun bagi kalangan masyarakat menengah kebawah juga mengkonsumsi candu yang dengan kualitas rendah. Pohon candu Jawa juga tidak kalah kualitasnya dengan buah candu atau opium dari luar.

Terbukti dalam sejarah candu di Jawa selain mendapat pengaruh dari luar, sebenarnya buah candu lokal (Jawa) juga sudah tumbuh subur di daerah dataran tinggi di Jawa. Namun, keterbatasan informasi dan pengetahuan membuat pohon candu Jawa ini kurang mendapat perhatian dari masyarakat. Setelah masuknya pengaruh bangsa asing (Eropa), kemudian mulai banyak masyarakat didesa-desa dan pegunungan menanamnya. Namun, hal tersebut tidak berlangsung lama karena adanya monopoli pasar dari kompeni. Dan istilah lain dari buah candu ini menjadi bunga poppy di Indonesia, yang kebanyakan dijadikan sebagai hiasan.

Meskipun perputaran dari komoditas opium terbilang sangat besar, dari pendapatan dan juga diikuti permintaan yang besar, komoditas ini sangat membahayakan bagi kualitas hidup masyarakat suatu bangsa. Mengkonsumsi secara berlebihan selain merusak sel saraf dalam tubuh juga bisa menimbulkan kematian.

Maka dari itu pada saat itu sudah mendapat pertentangan dari sebagian kalangan masyarakat. Seperti larangan yang menjadi prinsip orang Jawa pada umumnya yaitu dilarang ‘Molimo’, artinya ajaran moral yang melarang kaum laki-laki berbuat lima kegiatan berawalan huruf M, Maling (mencuri), Madon (main perempuan), Minum (minum alkohol/mabuk), Main (berjudi) dan Madat (menghisap candu).

Raja Paku Buwono IV juga menuliskan ajaran moral dalam syair Wulang Reh (ajaran berperilaku benar). Beliau menggambarkan kalau seorang candu atau pemadat itu cerminan seorang pemalas dan orang yang bersikap masa bodoh, hanya gemar tidur di bale-bale untuk menghisap candu.

Sedangkan menurut pujangga besar tanah Jawa Ronggowarsito, peringatan dari Paku Buwono IV tentang opium dapat dibaca sebagai komentar terhadap merosotnya nilai-nilai moral istana/kerajaan di Jawa yang membantu mempercepat perpecahan politik dan perbudakan yang dilakukan Belanda terhadap pihak kerajaan.

Dengan adanya kritik dan penolakan dari arus bawah, pemerintahan Kolonial Belanda segera mungkin mengambil tindakan dan membuat kebijakan, dengan perluasan kesempatan pendidikan bagi penduduk, dan upaya perbaikan kesejahteraan lainnya termasuk peraturan mengenai peredaran candu. Sayangnya Belanda bukannya menutup semua aktivitas produksi candu (opium) di Indonesia pada waktu itu, hanya saja memindahkan semua pusat komando pengelolaan perusahaan-perusahaan VOC di daerah ke Batavia.

Pihak Belanda juga pasti tidak mau rugi dong, karena komoditas opium sangat membantu peningkatan pendapatan negara sekaligus juga menyukseskan penjajahan moral anak bangsa. Jadi wajar ketika banyak aktivis, praktisi dan para penggiat sosial sangat menentang keras, peredaran opium, narkotika, dan obat-obatan sejenisnya, karena secara medis jelas merusak sel syaraf dalam tubuh khususnya otak, membuat seseorang mencadi candu dan malas beraktivitas pada normalnya, menjadi terbelakang, bahkan ada sebagian menjadi cacat fisik dan tak sedikit hingga meregang nyawa.

Opium memang komoditas yang sangat legit, bagi mereka yang hanya sekedar mencari keuntungan tanpa memperhatikan efek samping dari pemakainya. Inilah sejarah candu atau opium di Indonesia, yang dibawa oleh bangsa asing dan diperkenalkan kepada masyarakat lokal, kemudian menjadi candu dan berujung nestapa hingga saat ini. Semoga kita semua memahami kondisi seperti ini, tidak mungkin juga sesuatu yang pernah jaya dan besar di negeri ini begitu saja hilang. Mari kita telisik bersama dan semoga informasi ini mampu menambah cakrawali sobat semua. Terimakasih sudah mampir dalam artikel ini sampai jumpai di artikel selanjutnya.