Negara di Tangan Tuhan dan Sejuta Tafsir yang Berujung Konflik Horisontal

Kedaulatan di Tangan Tuhan
Kedaulatan di Tangan Tuhan

Kedaulatan di Tangan Tuhan dan Sejuta Tafsir yang Berujung Konflik Horisontal

Ciri-ciri Kedaulatan Tuhan – Hai warga melek yang berbahagia jumpa lagi dengan mimin, sesuai dengan janji kemarin ya. Kali ini mimin akan mencoba mengulas tentang asal mula negara berdasar kaca mata teologis atau sering kita kenal dengan istilah teori ketuhanan. Karena beberapa tahun terakhir ini sering sekali terjadi perdebat tentang negara-negara yang berlandaskan ajaran sebuah agama tertentu atau yang menginginkan konsep sebuah negara berbasis agama artinya kedaulatan sebuah negara berasal dari Tuhan. Mungkin sebelum kita jauh membahas perdebat itu alangkah baiknya kita agak mundur beberapa abad karena sesungguhnya perdebatan tersebut sudah pernah terjadi loh . . malah bahkan dibeberapa zaman dan dilokasi yang berbeda nenek moyang kita sudah mencoba menerapkan konsep tersebut.

Nah yang perlu kita ketahui adalah seperti apa sih dulu hiruk pikuknya, dan bagaimana outputnya. Jadi landasan teoritis mengenai asal mula sebuah negara itu bermacam-macam. Kenapa demikian, ya karena semua telah melewati berbagai kajian dan ijtima pakar pastinya. Semakin banyaknya konsep dalam menelaah sebuah konsesi harusnya semakin membantu kita untuk memahami sesuatu sebelum memberikan kesimpulan. Jadi kalau kemarin kita membahas asal mula terbentuknya negara melalui sebuah perjanjian masyarakat atau antar kelompok yang memiliki gagasan tujuan secara politis dalam membuat sebuah tatanan masyarakat yang lebih terkontrol, baik secara demokratis maupun secara otoritarian.

Kemudian kali ini kita akan membahas asal mula negara menurut teori ketuhanan atau teologis yang artinya kedaulatan negara di tangan Tuhan. Emang Tuhan punya tangan?? Hmmm huss sekedar perumpamaan boskuh hadee. .. . . Dasar dari teori ketuhanan ini sendiri yaitu pada kepercayaan bahwa segala peristiwa di alam semesta ini terjadi karena kehendak Tuhan. Bagi yang tidak percaya dengan eksistensi Tuhan ya ndak usah dilanjutin bacanya hehehe . . . lanjut bagi yang percaya dengan adanya Tuhan, sebenernya teori ketuhanan ini bersifat sangat universal, bisa dilihat dari sejarah kalau teori ini ditemukan di dunia bagian timur juga di dunia bagian barat.

Misalnya di barat pernah kita kenal sosok Alexander The Gread atau Iskandar Zulkarnein yang dinyatakan sebagai putera Zeus Ammon, juga Mikado di Jepang adalah kaisar yang dianggap sebagai keturunan Dewa Matahari. Dalam ‘epik Mahabharata’ mengatakan, tatkala manusia dalam keadaan alamiah yang anarkhitis itu menderita keganasan-keganasan dari keadaan itu, maka mereka menghampiri Tuhan dan memohon kepadanya agar Tuhan menyediakan seorang raja yang dapat menolong dan melepaskan mereka dari keadaan yang ganas dan kacau balau.

Seperti halnya zaman romawi pada abad petengahan, teori ketuhanan mulai muncul dan berkembang seiring perkembangan agama Kristen. Masalah yang terjadi pada negara teokrasi adalah pada pemahaman atas ketuhanan, yang bersifat transenden itu, tentu sangat bersifat subyektif banget. Nah dengan apa dan bagaimana kemudian penduduk sebuah negara tahu pesan atau keinginan Sang Pemilik Negara? Jika tidak bisa dengan tidak diperlukan media yang kasat mata, sudah semestinya manusia juga bisa menyampaiakn pesan Sang Pemilik kepada penduduk negara.

Media yang dimaksudkan bisa berupa seseorang, atau beberapa orang, yang dipercaya mampu menghubungkan langsung sekaligus bisa memahami pesan dalam ‘bahasa gaib’. Apa??? Gaib? Ihh ngerii . . . seseorang atau beberapa orang berfungsi sebagai media perantara antara pemilik kedaulatan dengan penduduk negeri. Kemudian sifat pesan biasanya berupa perintah yang harus dipatuhi dan dijalankan oleh warga negara. Berbicara tentang ketuhanan adalah berbicara tentang keimanan.

Baca Juga :

Maka dari itu seseorang atau sekelompok orang yang telah percaya sebagai medium atau perantara, maka apapun yang disampaikan harus diyakini sebagai kebenaran mutlak. Nah lohh harus diyakini ya ya ya . . jadi bagi yang senengnya protes, nyinyir harap-harap mampus kalau ngga ya bikin negara sendiri. Dalam negara teokrasi ini fungsi perantara biasanya diperankan oleh pemuka agama. Maka pendeta, biksu, ulama menduduki posisi sangat sentral dalam negara. Seperti halnya filusuf Thomas Aquino menjustifikasi peran dan kedudukan Paus sebagai penguasa kebijakan negara, beliau juga menjelaskan kekuasaan agama atas negara harus diberlakukan. Seperti Paus Gregorius VII (1020-1085), Innocentius III (1161-1216) dan Bonafacius VIII (1235-1303) dan lainnya, sebagai pemimpin tertinggi agama Khatolik juga menyatakan dirinya sebagai Kepala Civitas Dei yang artinya Negara Tuhan.

Dan dengan itu Paus memiliki kekuasaan untuk memberi hukuman atau disebut dengan istilah hukuman gereja, setara dengan kekuatan hukum duniawi. Menurut bung Hendarmin ada dua tipe negara teokrasi, yang pertama yaitu negara teokrasi dalam bentuknya yang sederhana, artinya penguasa negara dipercaya sebagai penerima pesan langsung atau bahkan penjelmaan langsung sebagian atau seluruhnya dari Sang Pemilik Kedaulatan (Tuhan).

Seperti di Indonesia kita pernah mengenal sosok raja Airlangga Pendiri kerajaan Kahuripan pada tahun 1009-1042 yang dipercaya oleh orang Jawa kuno sebagai titisan atau penjelmaan dewa Wisnu. Bahkan di era modern, sebelum Jepang ditaklukkan oleh sekutu pada perang dunia II, rakyat negeri sakura itu percaya bahwa Kaisar mereka adalah penjelmaan dewa Mataharin (dewa Amiterasu), kepercayaan yang dipelihara sejak kaisar pertama Jepang yang bernama Jimmu Tenno tahun 660 sebelum Masehi.

Negara tipe seperti itu aturan dan kebijakan yang diyakini sebagai dari Tuhan bersifat mutlak. Kemudian tipe yang kedua yaitu dimana pemilik kedaulatan tidak secara langsung menyampaikan segala sesuatu mengenai masalah kenegaraan. Namun, pesan disampaikan kepada petugas khusus seperti, malaikat, dewa, dewi atau sejenisnya.

Kemudian pesan tersebut didokumentasikan dalam bentuk sebuah kitab suci. Bentuk negara semacam ini bisa dikatakan lebih maju satu langkah karena penguasa dan rakyat dalam model ini memiliki rujukan yang sama mengenai segala hal yang menyangkut kehidupan berbangsa dan bernegara yaitu kitab suci.

Dari Tafsir menjadi hukum negara

Mungkin kita sering mendengar ada orang yang begitu kekeh memperjuangkan pendirian sebuah negara dengan atas nama agama atau kedaulatan Tuhan menggunakan tafsiran-tafsiran dalam kitab suci sebagai pedoman dalam berkehidupan berbangsa dan bernegara. Seakan segala sesuatu yang berasal dari Tuhan harus diimani sebagai kemutlakan. Sayangnya, klaim atas kemutlakan ketuhanan ini menjadi kemutlakan tafsir yakni tafsir sang pemuka agama.

Dalam mitologi kuno sering digambarkan bahwa implementasi kepatuhan bisa menjadi sedemikian ekstrim, antara lain harus sampai pada tingkat kebersediaan anak negeri untuk menyerahkan jiwa dan raganya dalam upacara kenegaraan, menjadi kurban, sebagai bentuk persembahan dewa sang pemilik kedaulatan. Mengenai fakta tersebut masih dalam konteks perdebatan, karena timbul beberapa asumsi seperti hal nya kejadian semacam itu hanya sekedar mitos atau mitologi dalam sejarah atau analisa dari kacamata politik, bahwa adanya rekayasa cerita yang dilakukan penguasa (pemaku agama) sebagai wujud pengukuhan legitimasi kekuasaan, mari kita cari bersama dan nanti kita bahas dikesempatan berikutnya.

Ternyata bagi negara agama permasalahan utama yaitu sulitnya pemaku agama, sebagai pemegang otoritas yang berhak menafsirkan kitab suci, bisa terhindar dari kehendak dirinya, secara sadar atau tidak sadar untuk memonopoli penafsiran. Sulit disangkal bahwa yang sesungguhnya terjadi adalah bias makna kemutlakan. Maka, kekuatan pemuka agama dalam teokrasi adalah pada perannya sebagai satu-satunya pemegang otoritas untuk menafsirkan kitab suci.

Milad Hanna pernah bilang, “setiap pemeluk agama atau pengikut aliran akan memiliki pemahaman dan penafsiran tersendiri terhadap teks-teks suci mereka. Pemahaman itu tidak jarang juga ikut melahirkan perasaan paling benar dan istimewa. Ketika perasaan itu makin menumpuk dan mengkristal, maka sentimen kolektif suatu agama itu dapat melahirkan fanatisme buta dan semangat kebencian. Terkadang sentimen kolektif itu berkembang begitu cepatnya menelusuri jalan kekerasan, hingga berjuang pada peperangan”

Dan tidak jarang terjadi benturan antara kebenaran yang didasarkan atas penemuan ilmiah dengan kebenaran atas dasar tafsir pemuka agama sebagai pemegang otoritas penafsir kebenaran. Seperti halnya pada era kegelapan Eropa pemegang otoritas agama berkuasa untuk menjatuhkan hukuman terhadap penemu temuan ilmiah hanya karena bertentangan dengan tafsiran gereja.

Sulit untuk tidak menyimpulkan, bahwa dalam hal seperti itu, bahwa sang perantara sesunggunya telah mempertuhankan buah pikirannya sendiri. Karena sesungguhnya setiap manusia masih berjuang untuk mengendalikan hawa nafsunya.

Konflik horizontal akibat perbedaan agama dan perbedaan penafsiran

Perbedaan dalam menafsirkan makna kitab suci, dalam sejarah peradaban manusia, selalu terjadi pada setiap agama. Perbedaan penafsiran, sejatinya adalah kenyataan yang tidak terbantahkan akan betapa terbatasnya kemampuan nalar manusia dalam memahami makna apapun, apalagi kalo bersifat absolut. Seperti halnya agama yang lahir di India, China, dan di Timur Tengah, walau sudah berumur ribuan tahun namun tetap eksis bahkan terus berkembang hingga kini.

Nah, keterbatasan akal manusia berakibat pada keterbatasan dalam menafsirkan dalil-dalil kitab suci yang menyebabkan lahir bermacam aliran atau sekte keagamaan meski dalam satu agama, bisa berbeda bahkan berseberangan secara diametral. Sementara untuk doktrin sendiri mengimani tafsir sebagai sesuatu yang mutlak benar akan bermuara pada perbedaan yang semakin tajam. Manakala perbedaan sudah sedemikian tajamnya, terlebih oleh dorongan hendak ‘menegakkan kebenaran’ atau ingin ‘memurnikan ajaran’, tidak jarang berujung pada permusuhan untuk kemudian, masing-masing pihak berusaha saling melenyapkan dan sering berakhir memilukan.

Diabad modern masih juga kita jumpai pertikaian, penindasan, dan pembantaian berlatar belakang agama akibat keyakinannya, bahwa kesemuanya dilakukan sebagai bagian dari misi suci agama yang dianut. Seperti pembantaian ribuan umat Islam di Bosnia oleh umat Katholik (orthodox) etnis Serbia, saling bunuh antara umat katholik dengan protestan di Irlandia Utara, pertentangan berdarah antara kristen dan Islam di Sudan, ketegangan yang berlarut antara umat hindu dan umat budha di Srilangka, persaingan destruktif berebut kekuasaan di Armenia-Azerbaijan (negara eks Uni Soviet) antara umat kristen dan umat Islam, bahkan di Mesir, Pakistan, dan Bangladesh bentrokan kerap terjadi antara sesama agama islam yakni antara penganut garis keras dengan pemerintahnya yang beraliran moderat.

Nah, dalam skala bukan negara juga terkadang muncul aliran agama dan sekte tertentu yang berperilakuan aneh bahkan lebih cenderung disebut mengerikan, coba bayangkan kesediaan bunuh diri bersama demi menyongsong hari kiamat yang akan segera tiba (antara lain dipimpin pendeta Jim Jones, di Jonestown, Guyana, Amerika Latin, 1978) sampai pada tugas membunuh manusia demi untuk melaksanakan misi suci menyelamatkan manusia (antara lain dilakukan oleh sekte keagamaan Aum Shinrikyo di bawah pimpinan Shoko Asahara di Tokyo, Jepang 1995.

Seperti yang dikatakan oleh Dr. Haryatmoko : “sering muncul pembelaan bahwa agama bukan merupakan pemicu utama suatu konflik. Banyak pengamat dan pemuka agama menuding kesenjangan ekonomi, pertarungan kekuasaan politik, atau kecemburuan sosial. Tetapi, masalahnya mengapa agama yang dikatakan bukan pemicu utama konflik justru memberikan jaminan dukungan bagi pihak yang bersengketa. Agama cukup sering bukannya mengelakkan konflik, tetapi malah memberikan landasan ideologis dan pembenaran simbolis. Pembenaran ini bukan hanya berfungsi meringankan atau memberi alibi tanggung jawab pribadi, tetapi semakin meneguhkan tekad, mempertajam permusuhan dan memistiskan motif pertentangan menjadi perjuangan membela iman dan kebenaran, singkat kata demi tuhan sendiri

Jadi, seperti itulah ketika sebuah negara dibentuk berdasar kedaulatan Tuhan, permasalahan yang akan muncul malah sering akan memperdebatkan tafsir-tafsir. Gimana tidak, di dunia sendiri keyakinan akan eksistensi Tuhan sudah mengalami perkembangan yang luar biasa panjang, munculnya agama sendiri beraneka ragam dengan dalil yang variatif, lantas mana yang benar, atau muncul pertanyaan mana yang baik, sebenernya baik dan benar itu sendiri relatif, tergantung kebutuhan kita.

Makanya untuk membuat sebuah konsep sebuah negara saya pikir tidak cukup hanya menggunakan satu dua sudut pandang, pola pemikiran yang terbuka dan transformatif lah yang akan mengantarkan kita ke jalan yang sesuai khitohnya. Semoga sedikit coretan mengenai kedaulatan negara ditangan Tuhan ini membantu kita semua bingung dan memancing hasrat untuk bertanya dan bertanya, karena disetiap kegelisahan kita ada secercah harapan. wasalam