Empat Pulau Cantik di Kepulauan Seribu yang Mendapat Julukan Pulau Sakit

Empat Pulau Cantik Kepulauan Seribu Dijuluki Pulau Sakit
Empat Pulau Cantik Kepulauan Seribu Dijuluki Pulau Sakit

Sejarah Kelam Dibalik Empat Pulau Cantik Kepulauan Seribu yang Mendapat Julukan Pulau Sakit

Pulau di Kepulauan Seribu – Penjajahan kolonialisme Belanda tidak hanya meninggalkan luka yang mendalam bagi bangsa Indonesia namun juga meninggalkan banyak situs bersejarah. Salah satu situs bersejarah tinggalan Belanda yaitu di utara Ibukota Jakarta. Tepatnya berada digugusan kepulauan seribu yang masih menjadi bagian administrasi pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Ada empat pulau yang menjadi sasaran penguasaan Pemerintah Kolonial Belanda kala itu, yaitu Pulau Onrust, Pulau Cipir, Pulau Bidadari dan Pulau Edam. Keempat pulau tersebut diproyeksikan oleh Belanda sebagai tempat bungkar muatan kapal-kapal dagang VOC dari berbagai penjuru dunia.

Meski demikian keempat pulau tersebut mempunyai peran masing-masing, tidak hanya sebagai labuhnya kapal-kapal dagang melainkan juga dijadikan pusat didirikan rumah sakit yang menangani penyakit menular seperti kista dan lainnya.

Berikut gambaran kelam keempat pulau di Kepulauan Seribu pada masa penjajahan Belanda sehingga sering mendapat julukan Pulau Sakit.

1.Pulau Onrust

Pulau Onrust
Pulau Onrust

Nama Onrust yang memiliki arti tidak pernah istirahat. Seperti namanya pulau ini sengaja didesain seperti itu, ditandai masuknya bangsa Eropa ke tanah air bada abad ke 16, yang melakukan misi perdagangan internasional dengan menguasai wilayah Indonesia secara perlahan membuahkan hasil.

Salah satu titik pendaratannya berada di gugusan Kepulauan Seribu. Dengan membawa armada kapal-kapalnya bangsa kulit putih ini mendirikan camp dan memarkir sejumlah kapal besarnya, kemudian merapat ke Batavia (nama lain Jakarta) dengan kapal kecil lantas mendirikan sistem pemerintahan.

Di Pulau Onrust ini Belanda mendirikan sejumlah benteng, yang terdiri dari empat kubu pertahanan dan tiga tembok. Juga berdiri gudang dengan dilengkapi beberapa meriam dibibir pantai.

Salah satu fungsi dari pulau ini sebagai pengawas jalur utama perairan Laut Jawa. Karna pada waktu itu Laut Jawa satu-satunya jalur lalu lintas kapal dagang internasional yang terbilang cukup padat tak sedikit juga mampir buat singgah ke Batavia sebagai ibu kotanya.

Pada tahun 1730 sebuah gereja kecil dengan menara lonceng didirikan disana, untuk palayanan peribadatan dilakukan pada hari Minggu oleh seorang pendeta yang didatangkan dari Batavia setiap minggunya.

VOC memilik sekitar 12 gudang di pulau ini yang selalu penuh dengan barang, seperti lada, tembaga Jepang, bahan kimia sendawa, timah, kayu caliator, kayu sapan, dan lain sebagainya. Yang semuanya diawasi seorang petugas administrator untuk mengontrol keluar masuk barang ke gudang yang kemudian dilaporkan kepada kanselir di Batavia setiap bulannya.

Disebelah utara pulau ada dua penggergajian kayu, dan disisi selatan terdapat dermaga panjang, dimana tiga derek kayu besar dibangun yang memiliki fungsi untuk memperbaiki tiang di kapal. Di dermaga ini bisa memuat tiga kapal sekaligus, dengan posisi saling membelakangi satu sama lain.

Di dermaga lain arah barat, mendapat sebutan dermaga Jepang, dimana hanya bisa satu kapal yang bersandar untuk memuat atau bongkar muatan.

Semua kapal-kapal VOC bisa bersandar di pulau ini untuk perbaikan, karena dari awal dermaga di pulau Onrust ini didesain sebaik mungkin untuk labuhnya kapal-kapal milik VOC selain bungkar muatan juga sebagai perbaikan kapal.

Disinyalir dermaga di pulau ini salah satu dermaga terbaik di dunia pada waktu itu, salah satu yang mengakui yaitu kapten Cook, melihat desain, dan perlengkapan yang mumpuni untuk kapal sandar serta kondisi laut yang tenang membuat setiap kapten kapal merasa nyaman saat sandar.

Pengawas atas proses perbaikan kapal yang berlangsung disini diserahkan kepada kepala tukang kayu, memiliki sistem menejemen yang sudah tersistem. Sehingga tidak bisa sembarang orang yang mengerjakan perbaikan kapal.

Meskipun pulau ini kecil namun memiliki penghuni yang cukup banyak, diperkirakan ada tiga ribuan orang, yang 300 orang pekerja dari Eropa.

Kini pulau Onrust hanya di huni oleh segelintir orang saja, setelah kemerdekaan, peran pulau yang sangat ketat dan sibuk dulunya berangsur berubah menjadi sepi dan menurut beberapa orang disana Pulau Onrust angker.

Sekarang pulau itu berstatus cagar alam yang artinya hanya dijadikan tempat konservasi alam, dan pelestarian peninggalan budaya saja. Tidak ada lagi kesibukan perdagangan dunia saat ini, yang terlihat mondar-mandir pelancong untuk liburan dan sesekali melihat beberapa bangunan sejarah tinggalan Belanda yang tersisa.

2.Pulau Cipir

Pulau Cipir
Pulau Cipir

Sekitar 1.600 kaki dari Pulau Onrust terdapat pulau kecil yang cukup indah, dikelilingi pepohonan besar yang rindang dan sepertiga lebih kecil dari pulau Onrust. Pulau tersebut bernama Cipir (de Kuiper), atau Pulau Tembaga.

Berbeda dengan Pulau Onrust, pulau ini hanya ada aktivitas kerja siang saja, yaitu untuk kegiatan keluar masuk barang ke gudang. Jadi, memang tidak diperuntukkan untuk dihuni pulau ini, hanya ada 2 penjaga malam dan beberapa ekor anjing galak saja. Jangan coba-coba menginjakkan kaki kalau ngga mau dijenggongin wkwkwkkw. . . .

Pulau ini juga memiliki satu dermaga, selain untuk parkir kapal saat bungkar muat barang, juga sebagai sandar kapal-kapal apabila di Pulau Onrust terjadi penumpukan kapal.

Nah, selain dijadikan penimbunan logsitik VOC, ternyata pulau ini juga pernah dijadikan tempat penyembuhan penyakit menular seperti kista. Di pulau ini dulu pernah didirikan rumah sakit penyembuhan penyakit menular.

Selain itu juga dijadikan tempat karantina haji. Semua jemaah haji seluruh Indonesia dulunya dikarantinakan terlebih dahulu di pulau ini, selain untuk pendataan oleh Kompeni, juga sebagai pemeriksaan kesehatan para jemaah haji sebelum berangkat.

Tidak hanya itu, setelah mereka pulang pun juga masih harus mampir ke pulau ini, selain untuk memeriksa kesehatan mereka, apakah ada virus yang terbawa. Ternyata juga ada karantina oleh Belanda kepada mereka untuk meminimalisir munculnya upaya pemberontakan.

Dan ternyata memang benar, kebanyakan dari mereka yang pulang dari haji, sesampainya di kampung halaman, mereka melakukan pengumpulan masa, membuka pemahaman dan doktrik perlawan kepada kompeni.

Kekhawatiran Belanda ini ternyata terbukti hingga kemerdekaan Indonesia terproklamirkan pada tahun 1945. Salah satu peran dari gerakan islam dalam kemerdekaan yang sejarah telah mencatatnya.

Namun, bukannya membuka babak baru di kepulauan ini, seakan menambah sederet masa kelam. Pulau yang dulunya diproyeksikan Belanda sebagai pintu gerbang maritim Indonesia, pada masa orde baru malah menjadi tempat pembuangan.

Orang yang dibuang kepulau ini kebanyak mereka yang mengidap penyakit menular, seperti TBC, kusta atau lepra. Maka sampai saat ini pulau ini mendapat julukan pulau sakit. Inilah sedikit gambaran mengenai sejarah Pulau Cipir dan akar dari misteri Pulau Cipir yang terkenal angker.

3.Pulau Bidadari

Pulau Bidadari
Pulau Bidadari

Sejarah Pulau Bidadari yang memiliki nama cukup indah ini juga tidak luput dari daftar kelam sejarah bangsa ini. Pulau yang tidak jauh dari Pulau Cipir ini, nasibnnya hampir sama, bahkan sejak awal pulau ini dihunia pada masa kolonialisme Belanda memang sengaja diproyeksikan untuk tempat penyembuhan.

Pulau yang banyak ditumbuhi pohon-pohon besar ini oleh Belanda dimanfaatkan sebagai pusat penyembuhan. Belanda membuat beberapa bangunan di tengah pulau. Untuk pembangunannya Belanda mendapat support dari Eropa juga orang-orang Jawa pada waktu itu.

Karena tingginya angka penyakit menular, mengharuskan mendirian rumah sakit khusus, dan Pemerintah Belanda segera mungkin merealisasi di Pulau Bidadari untuk pertama kalinya.

Jadi sebenarnya yang layak mendapat predikat pulau sakit ya Pulau Bidadari ini sobat, karena memang dari awal sudah diprospek oleh Belanda sebagai tempat penyembuhan. Yang kemudian oleh Pemerintah Indonesia tepatnya saat orde baru membuka kembali, namun lebih cenderung seperti pengasingan atau pembuangan orang.

Disinyalir dari beberapa sumber dikatakan, tidak hanya orang-orang sakit dengan penyakit aneh dan menular saja yang dibuang disana, juga ada pengemis dan gelandangan, bahkan juga ada orang-orang gila. Tak heran jika stigma horor dan angker yang sering disematkan orang saat mendengar pulau ini.

Meski demikian, keindahan alam di Pulau Bidadari tidak bisa dipandang remeh, terbukti saat ini pengunjung terbanyak saat liburan ke kepulauan seribu, tidak meninggalkan pulau yang satu ini. Pantai yang bersih dan dengan ombak yang tenang membuat nyaman wisatawan untuk berenang, snorkling disana.

Baca Juga :

4.Pulau Edam

Pulau Edam
Pulau Edam

Pulau yang keempat ini berada diujung utara dari ketiga pulau diatas. Pulau yang sangat kecil ini memiliki kepadatan tumbuhan yang sangat rapat. Mencirikan kepulauan digaris khatulistiwa yang memiliki kontur hutan tropis ini banyak ditumbuhi tumbuhan khas tropis sehingga terkesan rindang.

Kerindangan pulau ini lah menjadi alasan Belanda untuk singgah dan membangun beberapa camp, juga beberapa bangunan pergudangan sebagai tempat penyimpanan logistik.

Gudang yang berada di pulau ini hanya menyimpan garam saja. Sengaja Belanda membuat penimbunan garam terpusat, sepaya mudah pengontrolan dan memang pada saat itu kebutuhan akan garam sangat tinggi. Tidak hanya dalam negeri namun juga luar negeri.

Apalagi sudah terkenal, bahwa kualitas garam dari Indonesia sangat bagus. Sehingga Belanda benar-benar memperhatikan hal itu dan tidak mau kecolongan. Diambillah pulau ini sebagai pusat penimbunan garam terbesar di Indonesia oleh Belanda.

Yang menarik dari ketiga pulau di atas, pulau yang satu ini justru lebih ngeri lagi. Selain sebagai gudang, juga dijadikan tempat tahanan dari Batavia, tak sedikit juga mereka disiksa hingga mati di pulau ini.

Wajar jika sampai saat ini terkenal angkernya dan banyak menyimpan misteri Pulau Edam. Banyak mayat pribumi yang tercabik oleh sadisnya hukuman Belanda saat itu. Seakan keindahan alam pantai yang menggoda gairah untuk berlibur dan bermukim disana seakan tersedak.

Wilayah yang secara fungsi administratif sekarang menjadi cagar alam sekaligus cagar budaya yang artinya tidak diperuntukkan untuk kegiatan lain selain dalam lingkup tersebut. Sehingga menambah kesan horor karena memang minimnya interaksi manusia dalam keseharian disana.

Nah, itu tadi ulasan empat pulau cantik di kepulauan seribu provinsi DKI Jakarta yang menyimpan sejarah kelam dan terkesan tidak ada istirahatnya hingga kini. Yang menarik kini hanya dijadikan salah satu destinasi pariwisata primadona dengan suguhan alam yang mempesona di utara Jakarta. Buat kalian yang penasaran sila kan main kesana dan temukan sensasi sejarah yang luar biasa.

Terimakasih sudah mensupport kanal ini ya sobat, sampai jumpa diartikel selanjutnya yang akan membahas sejarah lebih akual lagi.