Emansipasi Wanita?? Cuman Globalisasi Jalan Satu-Satunya

Globalisasi Jawaban Emansipasi Wanita
Globalisasi Jawaban Emansipasi Wanita

Globalisasi, Jawaban Buat Emansipasi Wanita yang Selama ini Sekedar Gagasan

Emansipasi Wanita di Era Globalisasi – Perempuan sering kali mendapat perlakuan yang tidak adil, mungkin kita sering denger, baca atau malah berkelakar demikian. Emang kenapa sih dengan perempuan, kenapa mereka dari dulu sering diperlakukan yang menurut kita ndak adil. Seperti di beberapa negara, perempuan menjadi hak milik laki-laki, yang itu artinya laki-laki berhak dan berkuasa atas eksploitasi perempuan, ngerikan. Atau seorang bapak yang memiliki hak untuk menikahkan anak perempuannya, seorang suami berhak menentukan pekerjaan apa yang boleh dilakukan istrinya.

Dibanyak negara malah, banyak suami yang memegang paspor atau kartu identitas sang istri, sehingga perempuan tersebut tidak dapat bepergian dengan bebas, bahkan di negaranya sendiri. Anak perempuan juga tidak memiliki hak waris sebagaimana anak laki. Pendidikan bagi anak perempuan jauh berbeda dari hak anak laki. Bahkan, dalam beberapa kasus, anak perempuan tidak mengenyam pendidikan sama sekali. Dan yang mirisnya, ada beberapa perempuan dalam kasus dianiaya, dan menjadi korban pemerkosaan sampai mutilasi alat kelamin tanpa ada tindakan apa-apa dari pihak berwenang.

Benar yang dibilang kebanyakan orang bahwa globalisasi akan menggerus budaya dan kebiasaan lama. Misalnya seperti budaya patriarkal dapat dipertahankan?, jika tiba-tiba anak-anak mempunyai penghasilan yang melebihi kepala keluarga. Nah salah satu yang bertentangan dengan globalisasi yaitu penindasan kaum perempuan. Dengan mulai maraknya pertukaran gagasan dan ide akan menumbuhkan harapan baru. Seperti perempuan di India, yang meyaksikan televisi bahwa mereka tidak harus menjadi ibu rumah tangga, mereka mungkin akan bergerak untuk meniti karir dijalur vokasi atau dalam bidang kesehatan.

Beberapa perempuan China misalnya yang dulunya terisolasi kini telah menuntut otonomi yang lebih luas dan ingin membuat keputusan sendiri. Inspirasinya berasal dari sebuah situs yang bernama gaogenxie.com, berarti hak tinggi sebagai simbol kebebasan dari tradisi yang benar-benar mengikat kaki perempuan China. Ketika para perempuan mulai menentukan konsumsi dan pekerjaan mereka sendiri dan menjadi semakin teguh menuntut kebebasan dan kesetaraan kekuasaan di bidang-bidang lain. Kesejahteraan materi yang meningkat membuka lebih banyak kemungkinan bagi para perempuan untuk mandiri dan mengurus diri sendiri.

Ini menandakan bahwa jika negara tidak bertindak diskriminatif atau mengatur pasar, pasar dapat menjadi lahan yang produktif bagi mereka. Diskriminasi sendiri menjadi hal yang mahal bagi kapitalisme, sebab itu sama artinya dengan menolak barang atau tenaga dari sejumlah orang tertentu. Kemajuan teknologi dapat mempercepat kemajuan sosial. Hal tersebut dialami bangsa Arab yang kaum hawa tidak diperkenankan menunjukkan diri di muka umum tanpa menutupi anggota tubuh, kecuali kedua telapak tangan, mata dan kaki. Mereka juga dilarang mengendarai mobil atau melakukan hal lain.

Baca Juga :

Dampak yang praktis mereka dikucilkan oleh lingkungan dari seluruh kegiatan ekonomi. Namun, semua berubah dengan adanya internet dan telepon yang menyediakan mereka kemungkinan untuk aktif bekerja dari rumah dengan bantuan komputer. Dalam kurun waktu singkat kini bermunculan usaha-usaha yang dijalankan oleh perempuan seperti bidang mode, jasa perjalanan, penyelenggara pesta dll. Tidak hanya itu dalam dunia politik, demokrasi juga mengakomodir peran perempuan. Dengan adanya perubahan undang-undang perpolitikan, dibeberapa negara melakukan penambahan kuota partisipan dari kalangan perempuan.

Adanya kesetaraan jender juga tumbuh seiring dengan pertumbuhan kemakmuran. Ada penelitian dari Bank Dunia, mendapati bahwa meski anak-anak lebih cenderung mendapat pendidikan disemua tingkat penghasilan keluarga, tingkat disparitasnya sangat tergantung pada kekayaan. Dalam kelompok rumah tangga kaya penelitian tersebut menemukan bahwa proporsi jumlah anak perempuan dan laki yang bersekolah hanya berselisih 2,5 persen. Sedangkan dalam kelompok rumah tangga termiskin, perbedaannya cukup mencolok, yaitu sebesar 34 persen. Hampir di beberapa negara di dunia perbedaan dalam hal partisipasi anak perempuan dan anak laki di sekolah dalam dua dasawarsa telah berkurang lebih dari setengah.

Angka statistik diatas bukan hanya penting bagi perempuan, melainkan juga bagi anak-anak mereka. Pendidikan yang lebih baik dan penghasilan tambahan bagi seorang ibu akan dengan cepat bermanfaat langsung berupa naiknya asupan gizi dan juga kualitas pendidikan bagi anak-anak mereka.

Seperti pendapat Helen Rahman, seorang karyawan Shoishab (organisasi yang didanai Oxfam dan berfokus pada anak gelandangan dan wanita pekerja di Dhaka, Banglades. Berpendapat bahwa kemunculan industri tekstil dalam 20 tahun terakhir telah meningkatkan status perempuan,

Jadi bagi kita yang sering kali salah paham atau mungkin tidak mengerti sisi positif dari globalisasi dan kapitalisme bagi jawaban atas perasaan yang selama ini dirasakan bagi kaum hawa. Mungkin kita terlalu anti pati dengan doktrin-doktrin yang hanya menjadikan sebuah skeptis belaka. Padahal tanpa adanya globalisasi dan kapitalisme, ibu kita, kakak cewe kita, budhe kita dan temen-temen cewe kita ngga akan jadi wanita karir yang sekarang bisa membantu ekonomi keluarga.

Kehidupan terus mengalami perkembangan, dan banyak konsep-konsep teori yang mengalami perbaikan atas kedinamisan hidup ini. Yang menjadi catatan penting, apapun faham yang membuat kita berlaku seperti ini, semua harus seimbang, semua ada sisi baik dan buruknya. Semoga sedikit ulasan ini bisa menjadi alternatif pertimbangan dalam melihat dunia saat ini.

Gimana sudah tercerahkan, nantikan ulasan menarik dan informatif lainnya di sesi selanjutnya, terimakasih sobat melek yang berbahagia