Gaya Hidup Orang Eropa di Indonesia Abad 18

Gaya Hidup Orang Eropa
Gaya Hidup Orang Eropa

Seperti Inilah Gaya Hidup Bangsa Eropa Saat Tinggal di Indonesia

Pola Hidup Orang Eropa – Rutinitas yang hampir sama dilakukan setiap orang Eropa yang tinggal dan di tugaskan di Indonesia pada abad 18. Setiap pagi hari, sekitar pukul lima lebih dikit, ketika sang surya mulai menunjukkan batang hidungnya, mereka bangun dari lelapnya tidur. Banyak dari mereka kemudian duduk di depan pintu, dengan hanya mengenakan baju tidur dengan kain tipis, sambil sarapan dengan kopi dan roti.

Setelah itu mereka segera membersihkan diri dan bersiap untuk pergi mengurus bisnis yang mereka miliki. Hampir semua orang yang memiliki pekerjaan diharuskan sudah berada ditempat kerjanya tepat pukul delapan, dan mereka bekerja hingga pukul sebelas atau setengah dua belas siang.

Mereka makan siang pukul dua belas kemudian istirahat (tidur) sampai pukul enam belas atau jam empat sore, dan melanjutkan mengurus bisnis atau pekerjaan mereka sampai pukul enam sore. Setelah selesai bergelut dengan rutinitas yang menguras tenaga dan pikiran, mereka biasanya berkumpul dan pergi ke luar kota mencari tempat untuk bersantai, mengobrol dan bermain bersama.

Pukul sembilan malam mereka akhiri dan pulang ke rumah atau penginapan masing-masing untuk beristirahat, atau membersihkan rumah. Sekilas mereka terlihat sangat akrab satu sama lain, sayangnya ada perasaan-perasaan yang terbenam, penuh kecurigaan satu sama lain, yang hampir dirasa oleh setiap pekerja di kantor maupun perusahaan lain juga.

Hal tersebut bentuk konsekuensi dari pemerintahan yang sewenang-wenang dan penuh penekanan yang luar biasa. Banyak orang pada waktu itu mengatakan, di negeri ini mereka tidak akan menceritakan rahasianya bahkan pada saudara mereka sendiri. Karena menurut mereka, bentuk keresahan dan keluhan adalah akhir karir mereka.

Banyak pria yang sudah menikah justru tidak begitu peduli dan perhatian kepada istrinnya. Mereka terkesan jarang berkomunikasii dengan istri, jangankan membahas isu-isu yang hangat disekeliling mereka, saling curhat masalah dikantor ataupun permasalahan rumah tangga bahkan tidak pernah.

Sungguh seperti robot mereka, berangkat pagi pulang malam dan langsung tidur. Oleh sebab itu, setelah menikah bertahun-tahun, banyak wanita yang juga masa bodo dengan suaminya, juga terhadap dunia sekitar dan sangat wajar ketika mereka terkesan tidak memiliki adab atau tata krama.

Para pria pada umumnya berpakaian ala Belanda, sering memakai setelan hitam-hitam. Ketika ada seorang bertamu selama satu jam atau lebih, akan disambut oleh tuan rumah untuk membuat nyaman tamu, dengan melepaskan beberapa pakaian. Seperti halnya, dengan meletakkan pedang, mantel dan wig, karena kebanyakan pria pada waktu itu memakai wig, dan akan mengganti wig dengan topi putih kecil yang sudah disiapkan dalam saku.

wig ciri khas style pria Eropa

Sebagian besar wanita kulit putih di Batavia lahir di Hindia (Indonesia). Mereka yang datang dari Eropa pada usia cukup untuk menikah sangat sedikit. Mereka kebanyakan keturunan dari ibu-ibu Eropa, atau anak budak wanita timur yang pernah menjadi gundik orang-orang Eropa dan kemudian menikah dengan mereka, yang kemudian memeluk agama Kristen atau juga beralih nama Kristiani.

Anak-anak dari pernikahan ini bisa dilihat pada generasi ketiga atau keempat, terutama dari mata mereka yang jauh lebih kecil daripada keturunan asli di Eropa.

Ada juga anak-anak yang keturunan Portugis, tetapi mereka tidak pernah menjadi kulit putih sepenuhnya. Anak-anak yang lahir di Hindia mendapat julukan liplap oleh orang Eropa, meskipun kedua orang tuanya berasal dari Eropa.

Gadis-gadis umumnya dinikahkan pada usia dua belas tahun atau bahkan bisa dibawahnya lagi. Jarang mereka menikah di usia diatasnya, adapun itu mungkin karena dia cantik, kaya atau anak seorang penguasa.

Karena mereka menikah diusia yang sangat belia, mereka jarang memiliki anak yang banyak dan telah menjadi wanita tua di usia tiga puluh tahun. Mereka pada umumnya berpenampilan sangat halus, dan berkulit lembut, terlihat tangan mereka sangat putih pucat. Kecantikan bagi mereka bukanlah yang dicari, malah yang terkesan cantik pun jarang bisa dianggap lumayan di Eropa.

Baca Juga : 

Mereka umumnya tidak bergairah alias pemalas, terutama yang sudah memiliki pendidikan cukup dan mempunyai budak atau pembantu yang siap disuruh untuk ini itu.

Anak-anak mereka terkesan kurang mendapat perhatian dari orang tuanya khususnya ibu, dari sejak kecil sudah diberikan ke budak untuk mengasuhnya hingga beranjak gede. Sehingga tidak kaget kalau mereka tumbuh dengan keadaan yang asing bagi orang tuanya sendiri.

Sama seperti wanita yang lain di Hindia mereka juga sangat pencemburu kepada suaminya. Hal tersebut terlihat dari kedekatan para budak wanita dengan majikan laki. Jika mereka menemukan kedekatan atau keakraban antara budak dengan sang suami, tidak segan-segan mereka melakukan balas dendam yang teramat kejam.

Mereka menyiksa budak-budak dengan berbagai cara. Seperti mencambuknya dengan tongkat, memukuli dengan rotan, sampai ada yang menenggelamkan hingga kehabisan nafas. Bahkan kekejaman tidak berhenti disitu, mereka menyuruh para budak untuk duduk agak sedikit ngangkang dan sesekali memelintir bagian tubuhnya yang sensitif dengan kedua jarinya, sampai si budak pingsan karna menahan rasa sakit.

ilustrasi rumah tangga orang Eropa di Batavia

Setelah puas melampiaskan kemarahan mereka kepada para budak, maka sasaran selanjutnya adalah suami mereka sendiri. Yang dilakukan tidak terlalu kejam namun lebih kepada kepuasan tersendiri baginya.

Pernikahan di Batavia selalu dilakukan pada hari minggu, meskipun demikian pengantin perempuannya tidak akan pernah bepergian sampai pada hari rabu malam, saat dia menghadiri layanan ibadah dan memperlihatkan ke publik akan menyalahi adat yang sudah disepakati.

Masa janda atau masa iddah seorang wanita sangatlah pendek, yaitu tiga minggu setelah pemakaman sang suami, biasanya wanita yang kaya dan cantik, belum sampai minggu ketiga sudah banyak yang melamar namun hal tersebut tidak diperbolehkan secara adat.

Seperti itulah gaya hidup orang Eropa saat tinggal di Indonesia, terimakasih atas waktunya untuk mensupport artikel ini semoga bermanfaat buat sobat melek semua dan nantikan artikel yang tidak kalah menarik.